Cukup lelah hari ini. dan sekarang saatnya untuk mandi dan
beristirahat. “hemmm segarnya” ucapku saat selesai mandi. Aku pun
melihat ponsel ku. Lagi-lagi ada pesan masuk dari Fadil. Mau apa sih
dia, terus-menerus mengirimi aku pesan. Aku ini mau melupakannya. Jika
seperti ini terus, akan sulit bagiku untuk melupakannya. Aku memutuskan
untuk tidak membaca pesannya dan langsung saja aku hapus pesan darinya.
“Uliii..” teriak ibu ku. Aku pun langsung keluar kamar untuk menemui
ibuku. “ada apa Bu?” jawabku. “ini uang ujian. Besok langsung bayar biar
tidak hilang uangnya” ucap ibu ku sambil memberikan uang untuk membayar
ujianku. Ya, saat ini aku sudah kelas 3 SMA dan sebentar lagi aku akan
menghadapi ujian kelulusan. Hanya tunggu beberapa bulan lagi, untuk itu
aku harus rajin belajar agar aku dapat meraih impianku untuk mendapatkan
beasiswa ke Malaysia. Kesempatan beasiswa itu hanya untuk 3 orang. Dan
aku harus berada di salah satunya. Setelah mengambil uang ujian itu, aku
kembali masuk ke dalam kamar untuk beristirahat sejenak.
Malam ini adalah malam pertama ku tanpa Fadil. Ya, malam pertama
sejak hubunganku dengannya harus berakhir. Sudahlah aku tidak mau
membahas soal itu lagi. Belajar dan fokus pada masa depan. Itulah
tujuanku saat ini. pukul 9 malam, aku saatnya aku tidur dan membereskan
buku yang tadi aku pelajari. Aku berharap tidurku kali ini tidak
diganggu oleh mimpi yang membuat hari esokku merasa suram. Hem semoga
saja.
Matahari sudah berhasil masuk ke sela-sela jendela kamarku. Dan itu
tandanya aku harus segera bangun dari tidurku dan beranjak untuk
sekolah. Sejenak aku lihat jam dinding yang sekarang menunjukan pukul 5
pagi. Ya, hari ini aku tak perlu tergesa-gesa untuk berangkat sekolah.
Aku bisa mandi dan sarapan tanpa dibayang-bayangi bel sekolah. Sekitar
30 menit kemudian, aku pun sudah siap dengan seragam yang sudah melekat
pada tubuhku. Aku perhatikan diriku pada cermin, “hemm sudah rapi”
ucapku pada bayangan diriku di cermin. Hari ini, aku biarkan rambutku
tergerai dengan jepitan kecil. Aku berharap hari ini akan menjadi lebih
baik dari sebelumnya.
“pagi Ibu, ayah, Kakak” ucapku dengan ceria saat berada di meja
makan. “tumben banget adik aku yang satu ini gak telat bangunnya” ucap
kakakku sambil meledek. Aku tak menghiraukan ledekannya. Lebih baik aku
makan saja. Aku tidak biasa makan nasi di pagi hari, jadi aku memutuskan
untuk makan selembar roti saja. karena aku rasa itu sudah cukup.
Setelah selesai melahap selembar rotiku tadi, aku pun langsung
berpamitan dengan kedua orangtua ku dan kakak ku saat itu.
Ketika hendak mengeluarkan sepeda kesayanganku, eh tiba-tiba saja
Hani datang untuk menjemputku. “Ulii..” teriaknya dari dalam jendela
mobilnya. “hei Hani” ucapku saat menjawab sapaan Hani. Aku pun langsung
menhampirinya. “tumben udah bangun Li?” ucapnya sambil meledek ku. Huhh
terus saja semua orang meledekku. Aku bangun kesiangan salah, aku bangun
pagi juga salah. Jadi aku harus bagaimana? “hem kamu itu sama banget
deh dengan Kak Wita. Selalu saja meledekku” ucapku dengan datarnya.
“hehe maaf.. maaf.. ya sudah berangkat bareng aku aja ya” ucap Hani.
“hemm.. iya deh” jawabku sambil masuk ke dalam mobilnya.
Tak membutuhkan waktu yang lama, kita pun akhirnya sampai di sekolah.
Aku dan Hani turun di parkiran mobil dan secara kebetulan Fadil juga
baru sampai. Tapi kok tidak bersama Nuri ya? Sudahlah tidak ada
untungnya juga aku memikirkan hal itu. katika aku dan Hani ingin keluar
dari parkiran, tiba-tiba saja Fadil memanggilku “Ulii..”. aduh aku harus
bagaimana. Kalau aku menoleh ke arahnya, pasti Hani akan marah. Tapi
aku sangat ingin berbicara padanya. Aku dan Hani pun saling menatap.
“biar aku yang menoleh ke arahnya” ucap Hani. Hani pun menoleh ke arah
Fadil. “mau apa lagi sih Dil?” ucap Hani dengan ketus. “aku hanya ingin
berbicara pada Uli” jawabnya. “belum puas ya kamu menyakiti sahabatku?
Kamu meninggalkan dia hanya untuk seorang wanita seperti Nuri? Bodoh!
sangat Bodoh pilihanmu Dil. Kau menyia-nyiakan gadis sebaik Uli. Tetapi
untungnya sahabatku sudah tidak memikirkanmu lagi. Dan aku minta, kamu
jangan lagi mendekati Uli” ucap Hani yang terlihat begitu kesal pada
Fadil. Aku pun langsung saja menoleh ke arah mereka. Dan aku lihat,
Fadil hanya tertunduk saat Hani memarahinya. Entah kenapa aku tak tega
melihat Fadil. Aku rasa, dia tak sepenuhnya salah. Seperti yang pernah
ku katakan sebelumnya, pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Fadil.
“udah lah Han, kita ke kelas aja yuk” ucapku pelan sambil menarik tangan
Hani. Aku sengaja memisahkan Hani dari hadapan Fadil. Aku tidak mau,
Hani meluapkan semua kekesalannya pada Fadil. Ya, Hani memang selalu
membela ku. Apapun kondisi ku pasti dia selalu ada untukku. Ini lah
sebabnya aku sangat beruntung mempunyai sahabat sepertinya.
“Han..” ucap ku saat mulai duduk di dalam kelas. “kenapa Li?”
Jawabnya. “kamu jangan marahin Fadil seperti itu lagi ya? Aku mohon”
ucapku seraya memohon padanya. “masih saja kamu membelanya. Sudah
jelas-jelas kamu itu disakitin dia” ucap Hani. “bukan seperti itu. hanya
saja aku merasa kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh Fadil”
jawabku. “hem.. ya ya ya” ujar Hani. Hem aku tau, Hani masih tak percaya
mengapa aku tidak marah pada Fadil. Bahkan aku selalu membelanya. Tapi
aku akan buktikan, kalau ini ada hal yang tidak beres.
Bel istirahat pun berbunyi. Seperti biasanya, Hani mengajakku untuk
ke kantin. Tetapi aku harus ke ruang Tata Usaha untuk membayar uang
ujian. Dan akhirnya kita sepakat, aku membayar ujian dulu dan Hani akan
menunggu di kantin. Kita pun keluar kelas dengan berbeda arah. Di ruang
TU, aku bertemu dengan Fadil. Tetapi lagi-lagi dia tak bersama Nuri.
Kali ini, Fadil tak menegurku. Mungkin karena kata-kata Hani tadi pagi.
Aku pun memutuskan untuk menegurnya lebih dulu. “Fadil..” ucapku. Fadil
pun menoleh ke arahku dan tersenyum kecil. “eh iya Uli..” jawabnya.
“maafin Hani ya tadi pagi. Jangan di masukin ke hati kata-katanya”
ucapku meminta maaf. “iya gak apa-apa kok. Aku minta maaf soal…”. “ah
sudahlah.. tidak apa-apa Fadil” ucapku memotong pembicaraan Fadil. Fadil
pun langsung tediam ketika aku memotong pembicaraannya. Sepertinya dia
tau, kalau aku sudah tidak mau membahasa soal itu lagi.
Ketika aku selesai membayar uang ujian, aku pun keluar ruang TU dan
bergegas menghampiri Hani di kantin. “aku duluan ya Dil” ucapku saat
hendak keluar dari ruang TU. Fadil pun menjawabnya dengan sebuah
senyuman kecil yang terlukis di wajahnya.
“Ulii…” ucap seseorang dari balik punggungku saat aku hendak mencari
Hani di kantin. Ya, suaranya tak asing bagiku. Itu tak lain adalah suara
Hani. Aku pun segera menghampirinya. “kok lama Li?” Tanya Hani saat aku
mulai duduk di sampingnya. “hem.. iya maaf. Tadi banyak yang mau bayar
uang ujian soalnya” jawabku. “Han, aku ke situ bentar ya, mau pesan
minum” ucapku sambil menunjuk arah warung minuman yang berada di kantin.
“iya iya” jawab Hani singkat.
“aduh” ucapku saat seseorang tiba-tiba saja menabrakku dari arah depan.
Huuh, bajuku kotor terkena tumpahan air minum yang baru saja aku beli.
“duh maaf ya, aku tidak sengaja” ucap seseorang yang telah menumpahkan
minumanku dan juga mengenai bajuku. “kau?” ucapku dan orang itu secara
bersamaan saat kita saling memandang satu sama lain. Ternyata yang
menabrakku itu adalah seseorang yang pernah ku tabrak juga sebelumnya.
Seseorang yang masih saja marah-marah saatku sudah meminta maaf padanya.
Dan kini bergantian, dia yang menabrakku dan menumpahkan minumanku
sehingga baju ku kini kotor. “duh kotor deh” ucapku sambil membersihkan
tumpahan air minum itu pada baju seragamku dengan tissue. “nihh” ucapnya
dengan memberikan sapu tangannya padaku. Hem, ternyata orang itu
berhati baik juga. aku pun mengambil sapu tangannya dan mengucapkan
terima kasih padanya. “maaf ya” ucapnya lagi meminta maaf padaku. “iya
gak apa-apa kok” jawabku. “oh iya, maaf juga buat yang waktu aku
marah-marah ke kamu” ujarnya lagi. “hehe udah itu lupain aja” ucapku
sambil tersenyum. Melihatku tersenyum, dia juga ikut tersenyum. “hem
nama kamu siapa?” Tanyanya padaku. Ketika aku ingin menjawabnya,
tiba-tiba saja Fadil datang melintasi ku dan seseorang yang kini
bersamaku. Kali ini Fadil tidak sendiri. Dia bersama Nuri, kekasihnya.
Tuhan, mengapa aku masih tak kuasa melihat Fadil kini bersama Nuri. Aku
sudah berjanji untuk merelakannya. Tetapi mengapa masih saja dadaku
terasa sakit ketika dia melintasi ku dengan mesranya bersama Nuri.
“heiii.. kok melamum sih?” ucap seseorang yang ketika itu melihatku
melamun. Dan sapaannya itu menyadarkan ku dari lamunan tentang Fadil dan
Nuri. “eh iya maaf, kamu Tanya apa tadi?” ujarku saat bertanya
pertanyaan dia tadi. “hem, nama kamu siapa?” ucap orang itu mengulangi
pertanyaannya. “namaku Ulina. Biasa dipanggil Uli” jawabku. “Uli? Nama
yang bagus. Nama aku Reza, tapi biasa dipanggil Eza sih” ucapnya saat
memberitau namanya sekaligus mengulurkan tangannya. aku pun menyambut
uluran tangannya dengan senang hati dan senyuman.
Sejak kejadian di kantin itu, aku dan Eza jadi semakin dekat. Bahkan
aku sudah memperkenalkan Eza pada Hani. “Uli, besok malam kamu ada acara
gak?” Tanya Eza saat aku dan dia berada di depan gerbang sekolah seusai
pulang sekolah. “hem.. sepertinya tidak ada. Kenapa?” jawabku. “aku mau
mengajakmu ke suatu tempat. Kamu mau?” Tanya Eza lagi. “iya boleh, jam
berapa?” jawabku setelah sebelumnya aku berfikir sejenak. “oke, jam 8
aku jemput kamu ya” ucap Fadil dengan penuh semangat. Aku pun tersenyum
sebagai jawaban setuju. “ya sudah, aku pulang dulu ya? Apa kamu mau aku
antar sekalian?” ucap Eza menawarkan diri untuk mengantarku pulang. “aku
masih menunggu Hani. Kamu pulang duluan saja” jawabku. Dan Eza pun
akhirnya pulang, sementara aku masih menunggu Hani di depan gerbang.
Hani saat ini sedang melakukan ujian susulan karena dia sempat tidak
masuk saat ujian sekolah waktu itu.
Sambil menunggu Hani, aku pun memutuskan untuk membaca Novel yang ku
pinjam di perpustakaan sekolah. “sepertinya ada yang lagi dekat dengan
Eza” ucap seseorang saat aku sedang serius membaca Novel. Sontak aku pun
langsung mengalihkan novel yang aku baca untuk melihat orang itu. dan
ternyata Fadil yang berbicara seperti itu. “maksud kamu apa bicara
seperti itu?” Tanya ku. Dia pun duduk di sampingku dan berkata “kamu
menjalin hubungan dengan Eza?” tanyanya lagi. Aku tak mengerti mengapa
dia bertanya seperti itu. “aku hanya berteman dengannya dan tak ada
hubungan spesial di antara kita” jawabku dengan sangat serius. “bohong”
ucapnya singkat. “untuk apa aku bohong. Aku tidak mungkin berkata bohong
kalau mengenai urusan hati. Saat ini aku memang masih berteman” jawabku
lagi. “masih berteman? Itu tandanya akan ada hubungan lanjutan setelah
pertemanan?” ucapnya dengan nada suara marah. “mungkin” jawabku singkat.
“dengan mudahnya kamu menggantikan posisi aku di hatimu” ucap Fadil
yang kini ku rasa sudah benar-benar marah. Aku yang saat itu sama sekali
tak memandangnya, kini mataku tiba-tiba saja melihat tegas ke arahnya.
Aku tak mengerti apa yang dia ucapkan tadi. Dia berkata kalau aku dengan
mudahnya mengganti posisinya di hatiku. Harusnya dia berkaca dahulu
sebelum berkata itu pada ku. “jadi kamu fikir, apa yang kamu lakukan
saat ini apa?” tanyaku dengan tatapan mata tajam. “lakukan apa
maksudmu?” tanyanya yang seolah-olah tak mengerti. “kamu menggantikan
posisiku di hatimu dengan Nuri, teman sekelasmu. Yang tidak lain juga
adalah mantanmu. Dan itu hanya berselang sehari setelah kita putus. Aku
tak, aku tak secantik dia. Tapi kamu benar-benar tega menari indah di
atas tangisanku ketika itu. dan tadi kamu berkata kalau aku mudah
mengganti posisi kamu dengan Eza setelah kamu tau aku dekat dengan dia.
Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiranmu itu” ucapku dengan sangat
kesal. Setelah aku bertanya seperti itu, aku lihat Fadil hanya terdiam.
Mungkin dia baru menyadari kesalahannya setelah aku berkata seperti itu.
“sayaang” ucap Nuri yang tiba-tiba saja datang di antaraku dan Fadil.
Sungguh, aku benar-benar tak tau kedatangan Nuri. Dan aku rasa, Fadil
juga tak tau. karena biasanya kalau Fadil melihat Nuri dari kajauhan,
dia pasti sudah menghindar dariku. “eh kamu. Sudah ujian susulannya?”
Tanya Fadil yang saat itu masih terlihat shock. “iya sudah. Kamu lagi
apa sama dia?” Tanya Nuri dengan ketus sambil memandang tajam wajahku.
karena perasaanku yang masih terbawa kesal, aku pun langsung berdiri dan
menghindar jauh-jauh dari hadapan mereka. Aku benar-benar tak mau
berurusan lagi dengan Fadil ataupun Nuri. Tetapi jujur, saat ini aku
memang masih mencintai dan menyayanginya. Kenanganku bersamanya dulu
yang membuatku susah melupakannya. Tapi kini aku harus sadar, kalau
sudah ada Nuri yang kini bersamanya. Tak sadar, tiba-tiba saja air
mataku jatuh. Dan seketika itu, kaki ku sangat berat untuk ku
langkahkan. Untung saja, hanya tinggal 2 bulan lagi aku lulus dari
sekolah ini. jadi memudahkanku untuk melupakannya.
“Assalamu’alaikum Bu” ucapku saat sampai di sekolah.
“Wa’alaikumsalam” jawab ibu ku. Aku tak banyak berkata-kata setelah
pulang sekolah. Aku langsung saja masuk kamarku untuk merebahkan tubuh.
Entah kenapa, aku merasa sangat lelah hari ini. tak lama setelah itu,
aku melihat ponselku yang berdering. “astaga, Hani?” ucapku saat melihat
panggilan masuk yang ternyata Hani. Aku sudah tau tujuan Hani
menghubungiku. Tanpa berlama-lama lagi, aku pun langsung mengangkatnya.
“iya Han” ucapku dengan rasa bersalah. “Uli? Kamu dimana?” Tanya Hani.
“hem, aku di rumah Han. Aduh maaf ya Han aku pulang tanpa beritahu kamu”
ucapku masih dengan rasa bersalah. “hem pantas saja” jawabnya. “iya
sekali lagi maaf ya Han. Habisnya tadi aku bertemu dengan Nuri dan
Fadil. dan kamu tau? Nuri menatapku seperti itu ketika dia melihat Fadil
duduk di sampingku” ucapku saat mengingat kejadian tadi siang. “lagi
kamu juga sih Li, harusnya kamu bisa menghindar lebih dulu dari Fadil”
ucap Hani yang malah menyalahkanku. “aku aja gak tau, kalau Fadil
tiba-tiba menghampiriku” jawabku. “hem, ya sudah lah. Lusa kita
berangkat sekolah bareng ya Li?” ujar Hani. “iya iya, jangan lupa
belajar ya besok Ujian Nasional inget” ujarku mengingatkan Hani. “siapp,
bye” jawab Hani seketika menutup teleponnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar