Rabu, 12 Maret 2014

Longing to See You



Awan di atas sana seperti kapas yang menghiasi pandanganku, lalu bunga bunga itu seperti teman ku, serta burung yang beterbangan adalah alasan dari hidup ku ini masih berlanjut. Dunia ini benar-benar bukan tempat yang adil untuk ku singgahi, lagi lagi aku harus menanggung derita tiada habis dan mengoyahkan nalar yang membuat pusing tujuh keliling. Maafkan aku Tuhan, Aku belum bisa mensyukuri Keadaan ku sekarang.
14 Maret 2012, Langit Mulai Menguning
Dear Diary,
Hari ini aku bertemu lagi dengan pacar barunya, rasa kesal terus menghantuiku dan kenapa harus perempuan itu yang jadi penggantiku?, aku bukan orang munafik dan aku jujur bahwa aku masih mencintai dia. sekarang aku harus berusaha melupakannya! Semoga hati ini tak terluka lebih dalam lagi.
Belum sempat ku beranjak dari meja setelah kututup Diary, Ponsel ku berdering, panggilan masuk dari Novandre, lho dari Novandre? tertegun aku tercengang melihat kenyataan pahit ini lagi, dia adalah sosok yang ku tulis hari ini. untuk apa dia menghubungi ku lagi, sudah jelas satu bulan ini aku putus dengannya. Ku tatap ponsel ku dengan nanar dan jelas saja aku tolak saja panggilan itu. dia sepertinya pantang menyerah mungkin ingin menyampaikan sesuatu, malas aku harus memperdulikannya lagi, Lantas saja ku tekan tombol non-aktif di ponsel ku, rasa kalut langsung menghadangku
Kamu berani lagi menggangguku di saat aku sedang berusaha membenci dan melupakanmu. Aku benci kamu, mengapa kamu harus pacari temanku. memangnya wanita di dunia ini tidak ada lagi sampai-sampai kamu harus memilih temanku. Dia adalah teman yang selama ini selalu menjadi tempat keluh kesah ku yang paling ku percayai. Kamu seolah membuatku tak berguna di hadapanmu. Bahkan saat Puisi ku dimuat di sebuah majalah, kamu malah menyepelekan itu dengan mengomentari bahwa sebenarnya Puisi ku kurang bagus, malam ini rasa sakit itu semakin jelas, mataku tak kuasa menahan air mata yang memaksa keluar dan dengan begitu saja air mata ku mengalir deras.

Halo matahari pagi, sinari aku dengan sedikit harapan untukku yang bisa ku gapai tolonglah bantu aku melupakan dia. Mataku bengkak mengingat malam tadi aku menangis. Pagi ini aku malu bersekolah dengan mata bengkak ini. kenapa aku harus menangis padahal dia tak penting untukku lagi. tapi aku juga tak bisa mengelak bahwa aku masih mencintaimu dan tak sadar aku berharap kau kembali padaku, tapi sepertinya hanya harapan kosong yang ku lempar untuknya. Ku berjalan menyusuri hiruk pikuk kota ini dengan menggenggam terlalu banyak harapan. tak ku sangka sampai juga di gerbang sekolah setelah lumayan berat ku langkahkan kaki ini, padahal jarak rumah dekat dengan sekolah, mungkin itu efek galau. dengan mata bengkak aku berusaha tersenyum pada teman-teman ku, aku harus mengingat bahwa hidup adalah tergantung dengan apa yang kita lakukan hari ini, dengan itu aku harus menyembunyikan rasa sedih ini agar aku bisa tersenyum di kemudian hari.
Sampai sekarang aku masih bingung, memangnya orang pacaran kalau putus harus bermusuhan ya?, aku menyesali itu, walau aku harus putus dengan Novan tapi setidaknya aku ingin menjadi sahabatnya saja. Sederhana saja yang aku inginkan. Sarah menghampiriku dengan senyum khas lesung pipit di kedua sudut bibirnya, cukup mengobatiku ternyata masih ada teman yang setia untuk ku. dia sepertinya membawa kabar gembira.
“Nika!!!” teriaknya menghampiriku dan langsung memelukku. terlalu berlebihan untukku yang saat itu sedang kalut, aku memaksa melepas pelukannya,
“kok gitu sih?” Sarah heran.
Dia ternyata tak kapok ku marahi dia malah mengulangi lagi untuk memelukku, aku pasrah saja. setelah agak lama dia lalu melepas pelukannya yang sangat erat itu, lalu menyampaikan kabar untukku.
“Nika, Selamat ya” Sarah mengulurkan tangan memberi selamat, tentu aku sambut saja ucapannya itu,
“memangnya selamat untuk apa?”
“kamu terpilih untuk mewakili sekolah kita di lomba Karya Tulis SMA tingkat Provinsi bareng sama Novandre!”
“hah! Novandre? aku sama Novandre?” aku heran betul dengan kabar itu, bukan senang dan bukan sedih tapi aku malah malu, aku harus bekerja sama dengannya yang sudah jelas aku membencinya, dunia ternyata tak memihak untukku, Sarah hanya mengangguk angguk saja meng iya kan pertanyaannku.
“Nggak adil!” aku teriak keras sambil menjambak rambutku sendiri. semua orang disana melihat ke arah ku, sambil sedikit heran mereka lalu menertawaiku.
Sarah yang malu bukan kepalang langsung membawa ku melihat mading pengumuman yang saat itu sudah terlihat tidak ramai lagi. tercengang melihat kebenaran kabar dari Sarah.
“ini serius nih?” aku masih tak mempercayai itu
“udah terima aja Nik!” Sarah mendukungku, tapi bagaimana bisa aku bekerja sama dengannya.
“aku pikir-pikir dulu!” aku lemas tak berdaya, pilihan ada dua, tolak atau terima
Sarah sepertinya baru sadar dengan mata bengkak ku ini, aku diintrogasi dengan banyak pertanyaan.
“ngomong-ngomong mata kamu kenapa Nik? um aku tau nih, pasti diputusin pacar ya? atau nggak dikasih uang jajan ya? atau abis lihat film drama?”
“pacar apaan kamu juga tau sendiri aku masih jomblo, ah kamu mau tau aja!”
“ye nggak papa dong, ini bermanfaat lho!” ucap Sarah membenarkan keingin tahuannya.
“bermanfaat apanya?” aku bersungut sungut
“udah jangan cemberut nanti cowok-cowok pada kabur lho!”
Dia menggodai ku lagi, tapi tak apa yang penting aku kembali tersenyum namun terpaksa. Mereka yang berada di Kelas menyambut kedatanganku, ada yang memberi selamat dan ada juga yang iri, sudah biasa untukku.
Setelah tau ternyata aku harus membuat karya tulis dengannya, aku terfikir lagi tadi malam dia menghubungi Ponsel ku, mungkin ini yang akan dia kabarkan untukku, Sampai siang ini aku belum juga bertemu dengannya, hari ini bahkan untuk sekedar melihatnya saja mustahil.
Harus ku akui saat ini aku senang, mungkin dengan ini aku bisa dekat dengannya lagi dan aku ingin menjalin persahabatan dengannya. Ku putuskan untuk menerima tantangan itu, Tapi bagaimana bisa aku membuat karya tulis ini, padahal daadlinenya sebentar lagi sedangkan tadi Ibu Rosa telah menagih hasil karya yang seharusnya sudah terselesaikan. aku hanya melamun saja di depan layar Laptop ku karena bingung harus menulis apa, temanya tentang Lingkungan dan Kebersihan, aku bimbang hubungi Novan atau tidak. lama aku melamuni Ponsel ku. dan tak disangka-sangka SMS masuk dari Novan.
“Nika! kamu udah tau tentang kabar itu?”
Aku jawab saja SMS itu dengan jawaban singkat
“udah!”
Tak biasanya jantungku berdebar-debar membalas SMS darinya. Apa aku jatuh cinta lagi. jangan sampai itu terjadi, Tidak Bisa! dia memberi balasan lagi. cowok memang lebih suka to the point dari pada basa-basi tak jelas
“maaf ya! tadi aku nggak bisa temenin kamu dengerin bimbingan cara membuat karya tulis dari Ibu Rosa, Aku nggak sekolah hari ini, besok kita ketemu saja pulang sekolah di perpustakaan, kita selesaikan karya tulis itu, biar cepet selesai, OK?”
Melihat SMS nya, rasanya senang sekali, aku bisa dekat dengannya lagi. aku tersenyum singkat dan kebingungan mau membalas apa. ku tulis saja semauku
“ya!” jawabanku ku sengaja singkat padat dan menyebalkan biarlah saja dia bukan orang yang pantas ku takuti. setelah itu aku tersenyum-senyum seperti layaknya manusia yang sedang bahagia.
Tak terlupakan untuk kejadian mustahil ini, ku buka Diary ku dan aku mulai menulis kata-kata di sana
15 Maret 2012, Hari Begitu Cerah
Dear Diary
Hari ini, aku menemukan hal yang sulit ku percayai. aku menemukan jalan untuk dapat berteman dengan Novandre, aku tak mau hanya karena masa lalu, aku menjadi orang jahat yang memutuskan tali pertemanan dengannya, bukan kah itu dosa. aku berharap aku bisa melupakan kesalahannya dan aku harus berusaha memaafkan Nabila temanku yang sekarang berpacaran dengan Novandre, tapi tak secepat itu aku juga manusia yang sulit memaafkan, perlahan tapi pasti aku berusaha untuk itu. :)
Seolah seperti kepompong yang akhirnya keluar menjadi kupu-kupu, aku berusaha menjadi yang terbaik untuk semuanya. Sepertinya Sarah begitu senang saat ku bilang aku menerima tantangan itu. dan akhirnya aku bertemu dengan Nabila lagi hari ini, aku melempar senyuman memberi kode aku telah memaafkan mu Nabila, dia juga sumringah membalas senyum padaku. Perlahan tapi pasti kita akan dekat lagi, mungkin sekarang kita saling malu untuk mendekat.
Tak terasa berjubal ilmu telah didapat hari ini. akhirnya waktunya pulang sekolah. Saatnya menepati janji Novandre. Ku langkahkan kaki ini menuju Perpustakaan Sekolah sendirian saja. Novandre menunggu ku di depan pintu, dia menyambut ku dengan tatapan ramah dan mengajakku duduk bersama Nabila, di sana rupanya ada Nabila, tenang jangan sampai aku cemburu, aku sudah bertekad untuk menjadikan mereka temanku. kacau sekali perasaan ini, dan aku hanya bisa menatap seluruh penjuru ruangan tanpa sedikit pun melihat wajah mereka.
“Nika! maafin kita ya” kata maaf terlontar dari Novan yang seolah masih merasa tak enak dengan ku. Aku dengan cepat mengalihkan pandanganku ke arah mereka
“kenapa harus minta maaf?” aku berlaga bijak dengan memperlihatkan diriku yang tegar telah melupakan kejadian itu.
Mereka hanya terdiam saja, Nabila bahkan tak bisa berdecit sama sekali
“aku udah maafin kalian kok!” aku memaksa untuk tersenyum dengan menatap mereka meyakinkan jawabanku. aku harus melupakan Novandre dan aku ingin jadi temanmu. dan juga Nabila.
“kamu serius Nik? makasih banyak Nik” ucap Novandre, dan Nabila pun tersenyum semangat sambil meraih tangan ku. aku hanya bisa tersenyum saja.
“makasih banyak untuk ini Nik.” akhirnya Nabila berbicara dan melemaskan kekakuan di antara kami.
Rasa lega sekali muncul menyapa ku. Kami saling tersenyum dan aku tak merasakan ternyata air mata haru mengalir begitu saja, Nabila pun begitu, aku menghapus air mata Nabila dan Nabila menghapus air mata ku, kami pun tersenyum dan lalu tertawa bersama, lama sekali kita tidak mengobrol akhirnya kami bertiga menghilangkan rasa canggung sampai tak ada air mata lagi. Tapi sepertinya Nabila tak enak dengan kami yang harus cepat menyelesaikan tugas. Dia pamitan untuk pulang dan mengizinkan pacarnya bersama dengan mantan pacarnya yaitu aku, berdua mengerjakan tugas. Nabila pun berlalu setelah berpamitan.
Nah di sini lah aku sekarang bersama Novandre mantan pacar ku yang sekarang menjadi teman ku.
“mulai dari mana kita Nik?” ucap Novandre membuka diskusi
“kita mulai dari bahasan mengenai Lingkungan dulu, baru masuk bahasan pokoknya Kesehatan!”
Kami serius sekali dengan proyek Karya tulis ini, agar kami bisa memenangkan piala dan membanggakan nama Sekolah. Novandre semangat bersama ku menggapai harapan itu.
16 Maret 2012, Keajaiban yang Datang dengan Cepat
Dear Diary,
Aku senang bisa berteman dengan mereka yang dahulu ku anggap musuh. aku kangen dekat dengan mereka. begitulah kurang lebihnya perasaan ku saat ini. :)
-Selesai-

Senin, 10 Maret 2014

My Oppa, My Namja



Mobil ayah Seung Ho sedang melaju di sekitar kawasan kumuh Gunyong pada jam 11 malam saat melihat seorang gadis dengan wajah yang berlumur darah berjalan dengan menyeret kakinya ke tengah jalan raya. Dia berhenti tepat di hadapan mobil ayah Seung Ho seolah menunggu untuk mengakhiri hidupnya.
Ciiiittttt… Suara decitan ban mobil terdengar. Ayah Seung Ho segera mengerem mobil saat melihat gadis itu. 30 cm lagi dan gadis itu akan terlempar jika mobil tidak berhenti. Seung Ho, mengusap-usap kepalanya yang baru saja beradu dengan kursi kemudi yang diduduki ayahnya akibat rem mendadak tersebut.
Gadis itu terkulai lemas dan pingsan begitu ayah dan ibu Seung Ho keluar dari mobil untuk melihat keadaannya.
1 minggu
“Eungh…” gadis itu bergumam. Ibu Seung Ho yang saat itu sedang menungguinya segera menghampiri gadis yang sedang terbaring itu. Gadis itu memejamkan matanya berusaha beradaptasi dengan cahaya lampu yang sangat menyilaukan.
“Dokter… Suster…” Ibu Seung Ho segera memanggil bantuan.
“Aku… Di mana…?” tanya gadis itu.
“Kau di rumah sakit.” jawab dokter yang sedang memeriksa keadaannya.
“Kenapa aku bisa berada di rumah sakit?”
“Kau tidak tahu?”
“Nae~”
“Siapa nama mu?” dokter itu bertanya.
“Nama ku… Nama… Ku… Aaaah…” gadis itu berusaha mengingat namanya tapi tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit.
“Gwaenchana (it’s okay), kau tidak perlu memikirkan hal itu dulu.”
Dokter itu lalu memberi tanda kepada ibu Seung Ho untuk keluar ruangan dan untuk membicarakan sesuatu.
“seperti yang telah saya perkirakan, yeoja itu lupa ingatan akibat pukulan atau benturan keras di kepalanya.” dokter itu langsung ke intinya begitu ibu Seung Ho masuk ke ruangannya.
“jadi, dok?”
“Kita tidak tahu siapa gadis itu, dan tidak ada juga yang mencarinya. Jadi… Ini akan menjadi keputusan anda, akan memberikan anak itu pada orangtua asuh, atau anda sendiri yang akan merawatnya. Rumah sakit tidak bisa menampungnya.” dokter itu, memberi penjelasan. Ibu Seung Ho hanya diam, terlihat sedang berfikir.
“Saya akan mendiskusikan ini dengan suami saya dulu dok.”
“Baiklah, saya berharap anda dan suami anda membuat keputusan yang terbaik untuk anak itu.”
“Nae~ gomawo (thanks)..” ucap Ibu Seung Ho sebelum meninggalkan ruangan.
“Aku adalah Eomma mu, ini adalah Appa mu, kau juga punya seorang Oppa yang tampan, namanya Park Seung Ho, dan nama mu adalah Park Hyun Ra.” Ibu Seung memperkenalkan dirinya dan suaminya pada gadis itu sambil tersenyum penuh kasih sayang. Mereka telah memutuskan untuk mengadopsi gadis itu yang sekarang telah memiliki nama ‘Park Hyun Ra’. Berhubung Ibu Seung Ho selalu mendambakan seorang anak perempuan.
“Eomma?” tanya Hyun Ra.
“nae, aku eomma mu.” begitu mendengar jawaban itu, Hyun Ra segera memeluk Ibu Seung Ho yang sekarang adalah Ibunya.
“Eomma… aku takut. hiks..” Hyun Ra memeluk ibunya sambil terisak. Dia juga tidak tahu pasti, tapi saat itu dia merasa sangat bahagia bercampur takut.
“Gwaenchana, Eomma bersama mu chagi-ya (sayang)!” Ibunya mengusap kepala Hyun Ra lembut dalam pelukannya. Ayah Hyun Ra hanya menjadi penonton yang baik.
1 minggu
“Eomma, aku tidak sabar ingin bertemu oppa ku!” ucap Hyun Ra bersemangat. Hari ini dia akan pulang ke rumah. Meskipun merasa aneh karena oppa-nya tidak pernah sekalipun datang menjenguknya. Ibu bilang oppa-nya benar-benar sibuk.
Tiba di rumah
Hyun Ra segera berlari masuk ke dalam rumah di ikuti Ibu dan Ayah yang hanya bisa tersenyum melihat betapa senangnya Hyun Ra saat itu.
“Oppa… Oppa… Eodiseo (dimana)?” Hyun Ra berteriak memanggil Seung Ho, Oppa-nya.
“Hyaaaaa~ kenapa kau sangat berisik, eoh?” Seung Ho menuruni tangga dengan wajah kesal.
“Oppa ~” Hyun Ra berucap lirih. Matanya mulai berkaca, sedih rasanya. Oppa-nya seperti membencinya.
“Seung Ho-ah!” tegur Ibu. Seung Ho memasang wajah kesal lalu berjalan melewati Hyun Ra menuju dapur. Ayah-nya mengikuti di belakang, sementara ibu membawa Hyun Ra ke kamarnya yang berada tepat di samping kamar Seung Ho.
Di dapur
“Seung Ho, ayah tau kalau kau tidak setuju dengan keputusan Appa dan Eomma. Tapi, setidaknya bersikap baiklah padanya. Sekarang dia adalah adik mu. Park Hyun Ra. Lagi pula tidak mungkin Appa dan Eomma meninggalkannya di rumah sakit.” Ayah menasihati Seung Ho.
seung Ho tidak berkata apa-apa.
“Apa kau mendengar ku?”
“nae~ aku mengerti.” jawab Seung Ho sebelum kembali ke kamarnya dengan wajah yang di tekuk.
Pagi
“Oppa… Oppa… Ireona (bangun)…” Hyun Ra menggoyangkan bahu Seung Ho yang masih tertidur pulas. Hyun Ra melakukannya berkali-kali sampai Seung Ho terbangun.
“Hya, apa yang kau lakukan di kamar ku?” bentak Seung Ho begitu melihat Hyun Ra.
“Eomma, menyuruh ku membangunkan mu.” jawab Hyun Ra takut-takut.
“Aku sudah bangun, sekarang keluar.” Seung Ho berkata dengan kasar lalu beranjak menuju toilet.
“Oppa, sebenarnya apa yang telah ku lakukan? Beri tahu aku.” Hyun Ra berucap sedih lalu berbalik meninggalkan kamar Seung Ho. Meskipun suara Hyun Ra terbilang kecil, Seung Ho masih dapat mendengarnya.
“Kesalahan mu adalah menjadi adik ku.” Seung Ho menjawab sambil menatap pantulan dirinya di cermin.

Minggu, 09 Maret 2014

Cintaku Tulus

Aku mengenalnya dari sahabat terbaikku. Dia seseorang yang ramah dan selalu tersenyum pada semua gadis. Ya, termasuk aku salah satunya. Seperti pada sebuah istilah “Cinta pada pandangan pertama” entah memang istilah itu terlalu berlebihan atau entahlah bagaimana, tetapi memang itulah kenyataannya. Bahkan bisa dibilang sekarang aku sedang merasakannya.
Izal itulah namanya. Dia itu teman pacar sahabatku. Padahal kami baru berkenalan beberapa hari yang lalu, tapi entah mengapa Izal selalu memberikan perhatian yang lebih padaku. Senang rasanya bisa mengenal Izal.
Setiap sahabatku, Wina bertemu dengan kekasihnya, Andy. Izal selalu ikut dengan mereka. Jadi, enggak ada salahnya kan kalau aku ikut juga he.. he.. he.
Kami berempat selalu nongkrong di tempat makan. Bercanda tawa bersama sambil bermain TOD, atau bisa dibilang Truth Or Dare (Jujur atau Berani). Kadang jika salah satu di antara kami memilih tantangan, biasanya kami menantang seseorang di antara kami untuk bernyanyi sekencang-kencangnya atau menari depan semua orang ha.. ha.. ha pokoknya kita selalu melakukan hal konyol setiap kali kita bertemu. Seperti tidak ada rahasia lagi di antara kami berempat. Hingga aku mulai merasa rasa ini semakin dalam pada Izal.
“Az, kok kamu makannya sedikit gitu sih?” tanya Izal yang menyadarkanku dari lamunan. Ia menatap kebingungan, melihatku yang hanya makan secuil nasi dan ayam goreng saja. Aku mendadak tersendak. Salah tingkah.
“Enggak apa-apa kok, Zal” jawabku lalu aku membisikkannya dengan nada pelan sambil mendekati telinganya, “Maklum Zal, aku ngirit hehehe” Izal yang tadi terlihat khawatir, sekarang pria yang ada di sampingku itu malah tertawa sambil memandangiku.
Lalu Izal malah membalas bisikanku tadi, ia pun mengecilkan nada suaranya sambil mendekati telingaku. “Aku akan membagi makanan ini denganmu. Agar kamu tidak disangka mengirit.” Ucap Izal yang langsung tersenyum padaku setelah mengatakan hal itu. Aku membalas senyumannya. Aku sungguh bahagia melihat tingkah lakunya saat ini.
Tidak selesai sampai disitu. Kami berdua malah asik berbisik-bisik sambil tertawa terbahak-bahak hingga Wina dan Andy kebingungan melihat tingkah laku kami berdua.
Baru 3 minggu aku mengenalnya. Tapi rasa ini semakin hari semakin besar. Aku terlanjur menyukainya, entah karena sikapnya yang terlalu baik atau karena aku terlalu nyaman berada di dekatnya.
Ke-9 kalinya kami berempat jalan bersama. Kami seperti biasa mencari tempat makan yang nyaman untuk nongkrong. Setelah banyak berbincang-bincang di tempat makan, kami melanjutkan perjalanan ke bukit hijau yang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat makan kami tadi. Bukit yang sangat indah terpampang begitu jelas disini, bukit yang sangat hijau itu membuatnya semakin terlihat sejuk dan asri. Suasana disini bisa dibilang romantis, karena banyaknya pasangan yang bersantai di tempat ini. Tapi aku malah merasakan hal yang aneh pada mereka bertiga. Wina dan Andy yang setiap menatapku selalu tersenyum sambil tertawa kecil, tetapi berbeda dengan Izal. Izal malah keliatan agak sedikit gugup.
Sesampainya di bukit hijau, Wina dan Andy meninggalkan kami berdua. Mungkin karena terbawa suasana, aku dan Izal merasa canggung. Izal tiba-tiba menarik lenganku perlahan, aku mendadak terkejut dengan tingkah laku Izal. Akhirnya Izal membuka pembicaraan, tapi Ia masih terlihat gugup. “Az, aku eeem… Aku suka sama kamu, dari pertama kali kita ketemu.” Jantungku berdegup kencang mendengar pengakuan Izal. Aku terdiam menatap Izal yang sepertinya sulit menatapku.
“Az, kamu ngerasain hal yang sama enggak sama aku?” aku terdiam sejenak sambil memandangnya. Lalu akhirnya aku mengangguk sambil tersenyum bahagia. Pria itu pun membalas senyumanku.
“Az, kamu mau enggak jadi pacarku?” lanjut Izal. Jantungku tak berhenti berdegup, malah sekarang jantung ini berdegup semakin kencang. Serasa mau copot. Tentu saja aku mau. Aku sangat ingin menjalani hidupku dengannya. Batinku terus berkata bahwa aku sangat mencintainya.
“Zal, kalau boleh tau. Kenapa kau menyukaiku?” aku mendadak malah bertanya hal seperti itu. “Karena kamu cantik, Az. Dan kamu pun baik.” Jawab Izal. Aku tersipu malu mendengarnya. Aku memantapkan hati untuk menerimanya, tanpa memikirkan bahwa perkenalan kami baru berjalan sebentar.
3 minggu sudah kami menjalani hubungan ini. Tapi semakin lama kelakuan Izal sudah mulai berbeda. Entah apa sebabnya, aku tidak mengerti. Kami bertemu selama pacaran baru satu kali. Bahkan, bila Wina dan Andy bertemu. Izal tidak pernah ada bersama mereka lagi. Izal selalu berkata, “Aku ada acara lain” atau “Maaf, aku sibuk. Mungkin bisa lain kali” beberapa kali Izal selalu mengatakan hal itu setiap kali kami bertiga mengajaknya jalan bersama.
Aku bingung harus bagaimana. Beberapa kali pula aku selalu bertanya padanya di sebuah pesan ‘Zal, kamu kenapa? Ada yang berubah dari sifat kamu.’ Pesanku singkat. Karena aku hanya ingin mendengar penjelasan yang jelas darinya. Satu jam kemudian, belum juga ada balasan. Aku kesal. Sangat kesal. Sesibuk apa sih dia? Sampai mengabaikan pacarnya sendiri! Keluhku dalam hati. Dua jam kemudian, Izal membalasnya. ‘Az, maaf aku sibuk.’ Aku terdiam melihat pesan yang begitu singkat darinya. Aku hanya menghela napas panjang.
Keesokan harinya, aku menyuruh Izal datang ke rumahku. Hanya ingin bertemu dengannya, walau sebentar. Ya, bisa dibilang aku sedang rindu. Aku yakin Izal sudah biasa ke rumahku, karena dulu waktu dia masih menjadi temanku. Izal sangat sering ke rumahku bersama Wina dan Andy. Aku menunggunya, tapi tidak ada kabar darinya. Aku mencoba menghubunginya, akhirnya Izal pun mengangkat telponnya.
“Zal, kamu dimana? Aku nungguin kamu dari tadi. Jadi kan ke rumahku?” sejenak aku tidak mendengar suara Izal di telepon. “Az, maaf ya. Kayanya aku enggak jadi deh ke rumah kamu. Aku lupa jalan kesana.”
“Hah? Kamu lupa jalan ke rumah aku? mana mungkin kamu enggak inget sedikit pun jalannya?” tanyaku kesal. “Aku bener-bener lupa. Aku juga enggak tahu kenapa.” Aku menghela napas panjang mendengar jawaban Izal yang tidak masuk akal. Aku mencoba untuk menahan emosi.
“Zal, kamu benar-benar berubah.” Kataku dengan tenang mengatakannya. “Kamu menganggapku berubah hanya karena masalah sekecil ini?” aku terpaku mendengar kata-katanya. “Zal, kepekaan kamu itu dimana ya? sikap kamu seperti tidak menganggapku sebagai seorang kekasih! Aku tetap sabar dan selalu mencoba untuk mengalah…” aku menghentikan perkataanku sejenak, untuk menahan air mata yang hampir saja keluar. Aku segera melanjutkannya sebelum Izal mulai menyela.
“Zal, mau kamu apa sekarang? Aku sangat tulus mencintaimu. Tapi mungkin kamu enggak pernah mencintaiku dengan tulus.” Percuma saja aku menahan air mata ini, toh sekarang aku malah tidak dapat menahan derasnya air mata yang keluar. “Az, aku ingin mengatakan sesuatu. Ini semua salahku, Az.” Derasnya air mata ini membuat aku tak bisa berkata apa-apa. “Maafkan aku” lanjut Izal.
“Aku kira aku mencintaimu. Ternyata setelah aku menyatakan cinta padamu. Aku merasa ada hal yang aneh pada diriku. Sekarang aku mengerti, bahwa aku lebih menganggapmu sebagai seorang teman. Tidak lebih dari itu.” Aku terdiam seribu bahasa. Aku pun mulai berhenti menangis.
“Az, boleh aku menemuimu hari ini?”
“Dimana?” tanyaku. Tanpa ingin memperjelas apapun lagi.
“Di tempat biasa kita makan. Jam 2 siang ini ya.” jawabnya. Aku tidak menjawab dan segera menutup sambungan. Aku menghela napas begitu berat.
Aku sampai lebih awal. Aku memakai kacamata untuk menutupi mataku yang sembab sehabis menangis tadi. Aku memandang sekeliling untuk mencari sosok pria itu. Dari kejauhan, Ia tampak sedang melepaskan helm dan segera menuju kemari. Aku segera menunduk saat Ia sudah mulai dekat.
“Az, kamu nunggu lama ya?” aku hanya menggelengkan kepala. “Az, bisakah kamu menatapku? Jangan menunduk seperti itu.” Aku menyanggupinya untuk tidak menunduk lagi.
“Apa yang ingin kamu katakan?” Akhirnya aku membuka mulut untuk mendengar penjelasan darinya.
Paras wajah Izal mendadak pucat sembari berkata, “Az, aku salah. Aku sungguh menyesal. Sedari dulu aku mencintai Wina, tetapi Andy sudah lebih dulu memilikinya. Aku kira aku dapat melupakan Wina dengan adanya kamu di hati aku. tapi ternyata aku enggak bisa, Az.” Mulutnya kelu seperti tak mampu menjelaskan hal yang lebih menyakitkan lagi padaku.
Aku mengangkat kepala Izal yang dari tadi sudah tertunduk. Aku mencoba sekuat tenaga tersenyum padanya.
“Zal, mencintai seseorang itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mencintai seseorang jika dipaksakan itu sulit bukan?” aku mencoba untuk tetap tegar. Walaupun hati sudah menangis.
“Cintaku tulus, Zal. Bahkan jika kamu bertanya mengapa aku begitu mencintaimu? Aku tidak tahu apa alasannya. Sampai saat ini pun aku tetap tidak tahu mengapa mencintaimu. Karena jika mencintai seseorang karena karakter, fisik maupun materi. Itu bukanlah cinta yang tulus.” Aku hanya menatap pria di hadapanku saat ini yang sedang terpaku mendengar perkataanku tadi.
Matanya berkaca-kaca menatapku. Walaupun aku sudah berterus terang padanya, tetapi entah mengapa rasanya masih begitu berat melepasnya. Izal tak berkata apapun lagi. Hanya terdiam.
Aku berdiri tanpa mengatakan ‘selamat tinggal’ padanya. Berusaha pergi agar tidak menangis di hadapannya. Izal menatap punggungku yang mulai menjauh lalu menghilang di balik pintu. Langkahku mendadak terhenti. Kali ini aku tidak bisa lagi menahan tangis. Aku tahu, semakin ditahan maka akan semakin sakit. Di tengah tangisku, aku hanya berkata, “Sudahlah, tidak apa jika dia tidak bisa mencintaiku. Yang terpenting hanyalah ‘Cintaku Tulus’.”

Perjalanan Yang Mendebarkan

Aku punya kembaran bernama Dhika. Dhika punya kemampuan melihat hal mistis atau gaib. Menurut kepercayaan mamaku, jikalau ada anak kembar pasti salah satunya pandai dengan hal mistis.
Ketika itu, aku dan Dhika hendak berlibur ke suatu tempat dengan mengendarai mobil. Tiba-tiba kami masuk ke dalam hutan yang sangat gelap. Hutan itu terkenal angker, tetapi hanya itu satu-satunya jalan. Tiba-tiba, Dhika berbelok sangat kencang. Aku pun kaget. Ternyata tadi Dhika melihat seorang wanita bergaun putih. Aku mulai ketakutan, untung Dhika menenangkanku.
Tiba-tiba, aku melihat sebuah gubuk kecil. Aku meminta Dhika untuk menghentikan mobil, untuk sekedar beristirahat. Tetapi Dhika tetap manjalankan mobilnya. Ternyata di depan gubuk itu, ada Kuntilanak, Genduruwo dan Tuyul.
Setelah perjalanan panjang, aku melihat sebuah danau. Karena merasa haus, aku meminta berhenti untuk kedua kalinya. Tetapi, aku seperti tidak dihiraukan. Ternyata di danau itu ada 2 Kuntilanak sedang bermain-main.
Tiba-tiba, Dhika mengambil salib, dan menyuruhku memegangnya. Ia sendiri memegang salib juga. Setelah selesai memegang salib, ia menjelaskan bahwa tadi mereka melewati berpuluh-puluh hantu.
Akhirnya kami sampai di tujuan. Hatiku lega sekali.
The End

Sabtu, 08 Maret 2014

Kertas, Pensil dan Penghapus

Jadikanlah persahabatan kita ini seperti kertas, pensil dan penghapus yang dapat saling menutupi kekurangan satu sama lain, pensil yang dapat mengisi kekosongan di kertas, penghapus yang dapat menghapus segala kesalahan yang pernah di buat sang pensil dan selembar kertas yang akan membuat mereka barguna.
Nama gue Jimmy Reynaldo, biasa dipanggil Billie Joe Armstrong, hahaha mungkin gue aja yang terlalu kePe-Dean pengen dipanggil gitu. Ini pertama kalinya gue nulis cerita. Jadi wajar kalau masih banyak yang salah.
Gue ngefans banget sama Group Band asal Amerika “GreenDay”, itu jadi salah satu alesan kenapa gue pingin dipanggil Billie Joe Armstrong, yaa meski begitu temen temen gue tetap manggil gue Jimmy.
Gue punya tongkrongan yang di kasih nama Corpse (mayat), nama itu di ambil karena kita emang kayak mayat hidup, yang keluar selalu malem dan baliknya selalu pagi, hahaha..
Temen temen gue orangnya juga asik asik, gak pernah lupa sama kacang dan kulitnya, yaa mungkin karena kita sering makan kacang, hahaha.
Tongkrongan gue memang gak terlalu banyak anak anaknya, tapi biarpun kita sedikit kita tetap asik, tetap solid dan yang paling penting kita gak pernah menomorduakan persahabatan.
Tapi belakangan ini corpse gak kayak dulu lagi, anak-anaknya pada sibuk sama urusan mereka masing masing, yaa begitu lah hidup.
Sekarang kita tinggal berempat, gue, Rega, Rony dan Fandry. Rega, dia orangnya asik, baik, loyal kalau ada duit dan menurut gue dia paling setia kawan. Rony, dia orangnya kocak abis, terkadang kayak orang beloon, hahaha Fandry, dia juga asik, dia temen seperjalanan sekolah gue,
Cerita ini bermula di suatu sore yang panas tepatnya tanggal 27 Desember 2011, gue yang seperti biasa selalu santai sambil dengerin musik dan lagu lagu GreenDay di depan rumah tiba tiba mendapat sms dari Rega, gue di suruh ke rumahnya, gak pake basa basi gue langsung cabut ke rumahnya, sesampainya di rumah Rega ternyata temen temen gue udah pada kumpul di situ, gue pun turun dari motor dan menyapa temen temen gue dengan nada asik. “hey corpse, what’s up?” dan gue langsung duduk ikut santai bareng.
Gak lama kemudian Rega keluar dari Rumahnya, “eh elo jim, udah lama sampe nya?” tanya Rega, “belum Gaa, baru juga gue sampe” balas gue.
Rega pun langsung duduk sambil mengeluarkan Kartu dari kantongnya, “wah asik nih, maen apa? Poker atau capsah?” tanya Fandry, “Bebas lah gue mah” sahut Rony, “okelah kalo begitu kita maen Poker aja” ucap Rega, “yang kalah jadi kacung ya, mau di suruh apa aja harus mau, gimana? Setuju?” ungkap gue pada mereka, “oke, siapa takut” balas mereka bertiga.
Permainan pun berlangsung cukup lama dan akhirnya gue yang berhasil memenangkan permainan dan Rony yang paling sering kalah, sesuai perjanjian Rony pun jadi kacung gue untuk sementara, Gue pun memanfaatkan kesempatan ini sebisa mungkin, dan Rony langsung gue suruh ini dan itu, tapi gak berapa lama kemudian setelah gue suruh suruh Rony pun pingsan seketika, Rega dan Fandry langsung menghapiri dan membawanya ke kamar, gue pikir dia cuma akting karena malas gue suruh suruh, tapi ternyata dia pingsan beneran, sontak Rega dan Fandry pun langsung marah dan mengomeli gue, “tolol lo, dia kan punya penyakit lemah jantung!!!” ucap Rega, “yaa gue kan gak tau, lo juga jangan nyalahin gue sepenuhnya dong!” ucap gue menyangkali kesalahan, “sekarang kalo udah gini lo bisa apa? Lo udah seneng buat temen lo sendiri kayak gini, hah? Sekarang mendingan lo pergi dari rumah gue, udah males gue punya temen egois kayak lo” ucap Rega dengan penuh emosi, dan gue pun langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. “gila, awalnya senang senang, akhirnya malah jadi kayak gini” gerutu gue dalam hati.
Setelah kejadian itu, dua minggu sudah gue mengurung diri di rumah dengan hati penuh rasa bersalah.
Sore itu waktu berjalan lama sekali, dan gue seperti mendengar pintu rumah gue terketuk di iringi suara seseorang memanggil manggil nama gue, gue pun langsung menghampiri dengan maksud melihat dan membukakan pintu. Tapi apa daya gue, gue kaget seketika melihat seorang cewek sedang berdiri di depan gue, dan ternyata Anita, Anita ini juga salah satu temen gue yang suka gabung nongkrong bareng anak Corpse.
“eh elo nit, tumben banget mampir, ada apa?” tanya gue pada anita, “cuma mau main aja kok, gak boleh emang?” timpal nya, “boleh kok, ayo masuk, memang begini keadaan rumah gue, agak berantakan”, “iya gak papa” timpalnya lagi, “mau minum apa nit?” tanya gue menawarkan minum, “gak usah lah, gue cuma mampir sebentar kok, cuma mau tanya sesuatu sama lo” balasnya, “tanya apa ya?” Sahut gue sambil memasang raut muka yang penasaran, “emm.. Lo lagi ada masalah ya sama anak-anak corpse?” tanya anita, sontak pertanyaan itu membuat gue kaget, “engg. Engg.. Enggak kok.. Lo kata siapa?” jawab gue agak sedikit gugup, “lo gak bisa bohongin diri lo sendiri jim, keliatan dari mata lo kalo lo bohong”, gue memang paling gak bisa bohong, apa lagi di depan cewek cantik dan baik kayak anita, “iiyy, iiyaa nitt, taaappii..”, belum selesai gue ngomong anita sudah meletakkan jari telunjuk nya di bibir gue, sambil berkata, “jangan bohongin diri lo sendiri, lakakukan apa yang harus lo lakukan, lo bukan siapa siapa tanpa mereka, begitu juga mereka” Kata kata anita telah menyadarkan gue, kalau gue memang bukan siapa siapa tanpa temen temen gue, tanpa pikir panjang lagi gue langsung lari secepat mungkin menuju kendaraan gue dan meninggal kan anita, “mau kemana lo jim?” tanya anita. “gue mau ngelakuin apa yang harus gue lakuin dari dulu,” teriak gue sambil mengendarai dan memacu kecepatan kendaraan gue menuju tempat biasa kami nongkrong.
Sesampainya di sana gue gak ngelihat siapa siapa alias sepi, gue pun memanggil manggil mereka tetapi gak ada jawaban sama sekali, “mungkin mereka udah gak mau kenal lagi sama gue” ucap gue dalam hati sambil berjalan meninggalkan tempat itu, tak berapa lama kemudian gue mendengar sepeti sekelompok orang sedang bernyanyi tepat di belakang gue, gue pun langsung menoleh ke belakang, dan ternyata.. “happy birthday to you, happy birthday to you” ternyata temen-temen gue yang lagi nyanyi lagu itu buat gue,
“selamat ulang tahun jimmy” ucap mereka beramai-ramai, gue seperti membeku, gue gak bisa ngomong apa apa, cuma rasa terharu yang gue rasain,
Dan tiba tiba ada yang menepuk pundak gue dari belakang, ternyata itu anita yang membawa kue sambil ngucapin selamat ulang tahun dan mencium pipi kanan gue, lagi lagi gue cuma bisa diam dan merasa sangat bahagia,
“makasih banget ya sob, gue gak tau harus ngomong apa, tapi gue senang banget, dan maafin gue juga ya udah bersikap egois selama ini, gue sadar gue bukan apa apa tanpa kalian”, “santai aja bro, waktu itu kita cuma ngerjain lo doang, hehehe” ucap mereka, “dan memang ini yang kita rencanain, hahaha, tapi lo senang kan?” ucap Rony, “senang banget gue punya temen kayak kalian semua, gue janji gue bakal rubah sikap egois gue, hehe” ungkap gue kepada mereka, “nah gitu dong, kita kan kertas, pensil dan penghapus yang saling melengkapi” ucap Fandry, “oke, kalo gitu kita langsung ke rumah gue aja, kita rayain ulang tahun jimmy dan kembali nya kita dalam CORPSE” ucap rega pada semua, “oke, berangkat”
Sekarang gue jadi lebih mengerti arti dari persahabatan lebih dari sekedar mengutamakan diri sendiri, karena dalam persahabatan kita semua adalah satu dan saling melengkapi.
Demikian lah kisah gue bersama anak anak corpse, hikmah yang bisa gue petik adalah “kita bukan apa apa tanpa teman, dan jadikanlah persahabatan kita seperti kertas, pensil dan penghapus yang saling melengkapi satu sama lain”
THE END

Cinta Warna Warni



Cinta itu gila, buta, penuh misteri dan sangat tidak logis, tapi cinta itu indah. Cinta gak bisa ditebak kapan ia ingin datang, dan kapan ia ingin hijrah, cinta itu adalah tamu yang tak pernah mengetuk pintu, dia bertamu ke hati tanpa permisi, terkadang ia tidak mengenal usia maupun kasta, tidak mengenal derajat dan mayoritas, ia hanya sebuah perasaan yang hadir di hati masing-masing manusia. Dan setiap manusia yang merasakannya itu adalah suatu hal yang wajar, yang pantas dan logis, terkadang hadirnya cinta mampu membuat sebuah perubahan dan jarak yang luar biasa. Cinta mampu membuat yang jauh menjadi dekat dan sebaliknya, dan mampu mengahapus perbedaan.. Dengan cinta setiap insan mampu mengenal apa itu kebahagian sejati, mampu mengenal apa itu sakit, dan dari sakit cinta mengajar untuk mampu mencintai dengan tulus. Dari cinta kita banyak belajar tentang kehidupan, darinya pun kita mampu berkorban untuk orang yang kita cinta.
Cinta itu mampu bertahan bukan karena tidak ada masalah, tapi karena mampu menyelesaikan masalah bersama dan semakin dewasa setelahnya. Cinta itu bukan untuk saling menyakiti tapi untuk saling menyayangi, ia adalah embun daunan, menempuh perjalanan dari langit menuju ke bumi. Perasaan cinta itu ajaib dan dahsyat.
Yah seperti apa yang sekarang kurasakan, perasaan ini hadir tiba-tiba, tanpa aku tahu maksud dan tujuannya. Aku gak tahu apa ini hanya perasaan suka atau memang cinta tulus sejati yang mengalir dari bilik hati kecilku. Namun semua masih tak dapat dicerna oleh akal sehatku. Apakah aku gila? salahkah aku mencintai seseorang yang lebih pantas kusebut “kakak”. Aku sendiri tak dapat membayangkan bagaimana akhirnya nanti, jika benar ini adalah cinta itu sendiri. aku berfikir ini hanya bumbu kagum atas dasar kedekatanku dengan nya, tapi hati berkata lain, karena tatapan mata kecilnya membuatku tak ingin jauh darinya, canda tawanya yang selalu ku rindukan, kebersamaan yang selalu ku cari di dirinya. Senyum manisnya selalu membayangi setiap sudut mataku, sosok dirinya yang selalu hadir dalam mimpiku, sorot warna matanya menyinari relung hatiku seakan-akan dirinya mencari sesuatu kebenaran hatiku. Wajahnya slalu meneror setiap apa yang kulakukan. Kata-kataku yang melukiskan segenap keindahan dirinya. Tak ada bagian dirinya yang tak mendiami pikiranku.
Aku sangat takut jika ini benar-benar cinta, aku takut ia tahu semua ini lalu menjauh dariku, yang membuatku semakin terpuruk akan hadirnya rasa ini. Aku takut jika ia tak menerimaku, aku takut menghadapi kenyataan jika ia memiliki perasaan yang sama, aku belum siap menerima keadaan itu semua, usiaku dan dirinya terpaut jauh.
Dikala aku merenungkan semua itu, aku ingin sekali menghapus seluruh perasaan ini, membuang jauh-jauh rasa cinta yang tak masuk akal ini. Andai saja aku dapat meminta kepada Tuhan, aku hanya minta 1 permohonan “Tuhan lepaskan aku dari seluruh rasa cinta ini, aku ingin seperti yang lainnya memiliki perasaan yang wajar, mencintai orang yang sebayaku” namun apa dayaku, hanya itu yang mampu aku ucapkan dalam setiap doaku, berharap keajaiban terjadi.
Kudapati diri ini semakin tersesat, saat kamu dan aku bersama, desah napas yang tak bisa kuubah, perasaan ini berubah jadi cinta. Dan sampai sekarang rasaku bertahan disini. Beribu kali logika menolak, bibirku terus berkata tidak tapi kenapa sampai saat ini hati kecilku tak mampu berbohong?, mataku terus memancarkan sinarnya, putus asa itu pasti, karena sampai saat ini hatiku tak mampu berpaling ke yang lain, sekeras aku memaksa, semakin kuat cinta itu hadir, Bagaimana mungkin aku terbang mancari cinta yang lain? Saat sayap-sayapku telah patah karenamu, mengapa batinku ditadirkan itu menderita disiksa perasaan seperti ini?

Rabu, 05 Maret 2014

Senandung Detak Jantung (Part 2)

“Ivan.. Selamat ya, sayang. Akhirnya kamu lulus. Jadi, kamu akan mengambil spesialis apa, Nak?” Suara di seberang sana berbisik di telinga Ivan.
“Terima kasih, Ma.” Kata Ivan, kemudian berfikir sejenak.
“Aku telah memutuskan untuk mengambil spesialis kejiwaan.” Lanjut Ivan.
“Apa? kenapa?”
“Gadis yang Ivan cintai sedang bersedih.. Begitu bersedihnya, hingga ia tak dapat menopangnya sendiri..”
“Ivan.. Apa dia adalah Inka?”
“Iya, ma. Ivan mencintainya sebelum Kenneth, tetapi Sekarang Kenneth lah yang meminta Ivan menjaganya..”
Agustus, 2013
Inka duduk di panggung senja bersama buket bunga mawar putih. Tatapannya begitu kosong.
Ivan mendekati Inka dan memandangi wajahnya.
“Di saat keadaan mu yang seperti ini pun, Jantungku selalu berdegup kencang..” Ungkap Ivan.
Ia memeluk Inka, Untuk yang pertama kali.
“Aku mencintai mu, Inka. Izinkan aku menggantikan Kenneth, kakak ku.” Bisik Ivan.
Ivan memperhatikan Inka yang tetap tanpa ekspresi. Wajahnya bagitu datar, tatapannya begitu kosong.
“Tapi, bahkan kamu tak pernah melihat orang lain setelah Kenneth.” Kata Ivan.
Ia beranjak meninggalkan Inka dengan kesedihannya.
Inka menatap langkah Ivan yang semakin menjauh, dan air matanya mulai menetes.
“Ivan..” Panggilnya lirih.

Pagi ini Inka telah duduk di bangku taman, Ia memeluk buket bunga mawar putihnya.
Ivan berlarian menghampirinya,
“Inka, kenapa kamu harus kabur dari kamar saat sarapan? Kamu harus makan..” Kata Ivan dengan nafas yang memburu.
Inka meneteskan air matanya, Ivan terkejut melihat Inka bersedih.
“Inka, Apa ada yang menyakiti mu?” Tanya Ivan, pertanyaan yang tentu tak akan terjawab.
“Maaf jika aku menyakiti mu, Aku hanya tak ingin kamu lupa makan..” Lanjutnya.
Namun, air mata tetap membasahi wajah datar Inka.
“Kamu.. Bersedih karena Kenneth?” Ivan menunduk bersedih.
“Kenneth.. Pasti baik-baik saja di sana..” Ivan berusaha tersenyum.
“Kamu lihat awan di sana?” Ivan menunjuk awan putih tebal di hamparan langit biru.
“Kenneth sedang mengintip mu dari sana. Dia pasti sedih melihatmu seperti ini.” Lanjutnya.
“Seperti aku yang bersedih, karena mencintai mu di balik bayang-bayang kakak ku sendiri.” Ivan berkata dalam hati.
Ivan teringat akan sesuatu. Ia pergi sejenak, kemudian kembali dengan gitar akustiknya.
Ia mulai bernyanyi sambil menatap awan putih, Sesekali ia menatap wajah Inka dan meneteskan air matanya.
Aku sadari engkau pernah dengan dirinya,
Dan di dalam hati mu masih ada namanya.
Mohon ijinkan aku untuk mendekati diri mu,
Dan meyakinkan engkau bila ku mengharap mu.
Walau aku harus seberangi lautan,
Dan mendaki gunung tinggi ambil bintang untuk mu.
Walau aku harus mengitari bumi,
Mencari sesuatu yang bisa membuatmu tertawa..
Bagaimana caranya agar engkau mengerti yang selalu di hati hanyalah dirimu?
Sudah berbagai cara telah ku lakukan,
Walaupun harus terjatuh aku tak akan pernah menyerah!
Hari berganti seiring dengan ku mencoba mendapatkan hati mu,
Mendapatkan cinta mu.
Namun yang kau berikan tetap diam dan membisu,
Tapi aku tak akan pernah untuk mencoba!
(Rama ~ Tak kan Menyerah)
“Inka, Sebenarnya aku sangat marah pada Kenneth. Ia meninggalkan mu, dan sejak itu.. Kamu tak pernah lagi menikmati indahnya dunia ini. Tapi, aku lebih marah pada diri ku sendiri. Yang tidak pernah bisa mengembalikan indah dunia itu pada mu. Bahkan, sampai tiga tahun telah berlalu..”
“Jangan pernah menderita karena orang yang meninggalkan mu, karena aku akan tetap di sini untukmu, menemani mu sampai kapan pun.. Kamu dengar itu, Inka?”
Ivan memeluk Inka lebih lama dan lebih dalam dari sebelumnya, kemudian beranjak pergi. ia tak dapat menahan kesedihannya lagi.
Dan Inka kembali merasakan sesuatu yang hangat mengalir di pipinya.
Hari telah sore.
Ivan berjalan cepat, Buket bunga mawar putih telah di genggamannya. Tetapi matanya masih mencari sosok Inka.
“Dokter Ivan!” Seseorang memanggil Ivan dan berlari ke arah nya.
“Ada apa, sus?”
“Pasien Inka tidak ada di tempat.”
“Apa? Kamu yakin sudah mencarinya?”
Suster di hadapan Ivan mengangguk.
Tanpa berkata lagi, Ivan mencari kembali Inka di seluruh sudut Rumah Sakit.
Inka tak di temukan juga. Ivan terlihat sangat khawatir.
Ivan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju pada sebuah tempat, dan berhenti di area pemakaman.
“Kenneth, Kamu apa kabar?” Ivan berjongkok di samping gundukan hijau berbatu nisan.
“Kamu pasti puas. Inka.. Dia selalu mengingat mu dalam hatinya. Kamu tahu? Dan ia tak pernah sekalipun menyebut nama ku dari bibir nya.” Ivan tersenyum kecil, sambil menghapus air mata yang sempat tumpah.
“Kenneth, Aku mohon. Ijinkan aku menjaganya. Bantu aku menemukannya, sekalipun kamu tak akan merelakannya untukku.”

Ivan melihat Inka berdiri di jalanan kota jogja dimana Ivan pernah melihatnya bersama Kenneth. Inka masih menenakan seragam rumah sakit, sepertinya ia hendak menyebrang jalan raya yang dipenuhi mobil dan motor yang berlalu lalang.
Ivan menghampiri Inka dan meraih tangannya, Namun Inka menghempaskan tangannya ke udara. Ia melepaskan genggaman Ivan dan berlari. Saat ia akan mengejarnya ia melihat datang sebuah truk berwarna putih dengan kecepatan tinggi dan tak disadari Inka. Suara klakson tentu saja berbunyi panjang ketika mobil itu telah mendekati Inka.
Ivan berteriak sekencang-kencangnya.
“INKAAAAA!!!”
Syukurlah… syukurlah Ivan berhasil menariknya dan memeluknya sehingga tak terjadi sesuatu yang buruk kepadanya. Jika itu terjadi, Ivan tak tau harus berbuat apa. Dalam sekejap, kaki dan tangan Ivan membeku. Ia masih terus mendekap Inka erat. Dan melihat ketakutan yang mendalam di matanya. Ia menggigit kukunya dengan gemetaran, sedangkan orang-orang berkerumun mengelilingi mereka.
Ivan mulai merasakan sakit. Sakit yang teramat sangat di dalam dadanya, sampai tangannya memegangi dadanya erat.
Inka masih menggigit kukunya dengan ketakutannya.
Ivan tersenyum lega melihat tak sedikit pun Inka terluka.
Keringat dingin mulai bercucuran di kening Ivan. Telapak tangannya juga terasa basah dengan keringat. Ada yang mencengkeram jantungnya hingga sulit berdetak.
Ivan jatuh. matanya masih tetap memandang Inka, Dan masih tersenyum untuknya sambil menahan rasa sakitnya.
“Ivan..”
“Kamu.. Menyebut nama ku?” Ivan gembira mendengar suara Inka menyebut namanya.
Inka mulai bereaksi mendekati Ivan yang kesakitan.
“Ivan!” Inka mendekati Ivan dan menggenggam tangannya.
Meskipun menahan rasa sakit, Ivan tetap menggenggam tangan Inka dengan lembut dan tidak mencengkeramnya.
Inka kebingungan, namun kemudian ia mengingat Kenneth.
“Jangan ulangi kesalahan Kenneth. Katakan! Kamu juga mempunyai penyakit jantung sepertinya?” Inka bertanya tegas.
Ivan tersenyum mengetahui perkembangan Inka.
“Jawab!” Bentak Inka.
Ivan mengangguk pelan.

Inka berlarian senada mengiringi roda ranjang Ivan.
“Bertahanlah! Aku mohon!” Pinta Inka. Tangannya tak pernah ia lepaskan dari Ivan, sampai Ivan masuk ke dalam ruangan rawatnya.
Inka terduduk lemah, Jantungnya berdegup kencang.
“Inka!” Prista menghampiri Inka dengan seragam perawatnya.
“Kamu sudah sembuh?” Ia terlihat senang mengetahui sahabatnya telah sembuh.
“Pris, Ivan! Dia punya penyakit jantung seperti Kenneth. Sekarang dia di dalam.” Jelas Inka, namun Prista hanya menunduk menyesal.
“Pris, kenapa? Jangan katakan kamu juga sudah mengetahui nya?!”
“Ivan itu memang pasien jantung di sini. Waktu aku tahu tentang itu, Aku mengingatkan tentang Kenneth. Aku tidak bisa membiarkan mu kehilangan dua kali dengan cara yang sama. Tetapi, Menurut Ivan kamu tidak akan peduli padanya apapun keadaannya. Kamu tidak akan pernah mencarinya jika ia sekarat, Dan kamu tidak akan menangisinya jika ia meninggal.” Cerita Prista.
“Apa?”
“Inka, Cita-cita Ivan untuk menjadi Dokter spesialis jantung agar bisa mengobati dirinya sendiri pupus, Saat dia memutuskan untuk menjadi Dokter spesialis kejiwaan agar dapat menyembuhkan mu.”
Inka terdiam, Sendi-sendinya tak mampu lagi menopang kenyataan.
“Ivan mencintai mu sebelum Kenneth ada di dalam kehidupan kamu. Tetapi, dia adalah orang yang paling marah ketika Kenneth membatalkan pernikahannya dengan mu..”
Prista menjatuhkan air matanya,
“Kamu selalu sibuk dengan penderitaan mu sendiri, Tanpa peduli ada orang yang lebih menderita memikirkan mu.”
“Cukup, Pris! Kamu ingin aku lebih merasa bersalah dari ini?”
Prista memeluk Inka yang menangis sejadi-jadinya.
Belum sempat ku membagi kebahagiaan ku,
Belum sempat ku membuat dia tersenyum,
Haruskah ku kehilangan tuk ke sekian kali?
Tuhan ku mohon jangan lakukan itu..
Sebab ku sayang dia,
Sebab ku kasihi dia,
Sebab ku tak rela tak selalu bersama,
Ku rapuh tanpa dia,
Seperti kehilangan harap..
Jikalau memang harus ku alami duka,
Kuatkan hati ini menerima nya.
(Agnes monica ~ Rapuh)

Yang Inka takutkan terjadi. Ivan telah mencapai tahap akhirnya, Tak ada yang bisa dilakukan Dokter kecuali Transplatasi jantung. Itu juga lah, yang akan di lakukan Inka untuk menebus kesalahannya pada Ivan.
Inka dan Ivan telah siap di meja operasi. Selagi bisa, Inka menatap Ivan yang terpejam sepuas hatinya. Bibirnya yang merah itu senantiasa tersenyum pada Inka sekalipun Inka tak pernah membalasnya. Mata itu selalu terjaga untuk memastikan tak ada hal buruk yang terjadi pada Inka sekalipun Inka tak peduli apa yang akan terjadi padanya. Tangan itu yang selalu menarik Inka ketika ia akan terjatuh ataupun menjatuhkan dirinya. Dan, Tubuh yang kini lemah itu selalu menopang segala yang tak sanggup di topang Inka. Ivan..
“Aku ingin kamu selalu ada untukku… Walaupun tanpa ku katakan kamu pasti selalu menemaniku… Namun kali ini berbeda.” Inka meraih tangan Ivan dan menggenggamnya.
“Dulu aku selalu berfikir untuk pergi bersama Kenneth. Tetapi ketika sekarang aku ingin bersama mu, Aku justru harus pergi dengan Kenneth.”
Air mata Inka mulai meleleh.
“Akhirnya semua ini akan berakhir juga..” Inka mempererat genggamannya.
Inka telah siap, dan perlahan pandangannya telah buram. Ia tahu, itulah terakhir kali ia menatap terangnya dunia. Setelah itu, Ia akan meninggal.

Inka berbaring di hamparan rumput memandangi hamparan langit tanpa awan. Senyumnya mengembang. Di sisi kanan, telah hadir Ivan yang menemaninya.
“Kenapa Kamu di sini?” Tanya Inka.
“Memangnya kenapa?” Tanya Ivan.
“Bukan kah ini alam ku? Bukan kah aku sudah mati?”
Ivan tersenyum,
“Kamu fikir aku akan membiarkan mu mati? Sendirian? Aku belum puas bersama mu.” Jelasnya.
“Aku juga tidak akan membiarkan Ivan membunuh mu untuk hidupnya.”
Inka terkejut, Seseorang berkata dari samping kirinya.
“Kenneth?”
“Aku tidak akan membuat Ivan tenang, jika dia mencintai orang lain dalam hidupnya, sedangkan dia hidup dengan jantung mu.” Kata Kenneth.
Inka bangkit dan berdiri,
“Apa kalian ini sepakat untuk meninggalkan ku dengan cara yang sama?”
Untuk pertama kalinya, Inka melihat Kenneth dan Ivan tertawa bersama.
Inka kesal dan beranjak meninggalkan mereka berdua. Tetapi ketika membalikkan badannya kembali, Inka telah sendiri.
“KENNEEETH!!!”
“IVAAAN!!!”

Inka membuka matanya perlahan dan mendapati nuansa putih di ujung matanya.
“Kamu sudah bangun?”
Inka heran ketika mendapati Prista di sampingnya.
Inka pun tak merasa sakit, karena memang tak ada bekas sayatan pisau operasi pada dadanya.
Dan kemudian ia mengingat, Jika bukan dirinya yang pergi. Tetapi Ivan yang memilih bersama Kenneth. Apakah itu berarti..?
“Ivan! Dimana dia, Pris?” Inka terlihat cemas.
“Tenanglah.. Tadi sebelum operasi dimulai, Orangtuanya Ivan datang. Dia yang menghentikan semuanya. Karena Kenneth dan Ivan tidak akan bisa memaafkan mereka jika membiarkan mu melakukan itu. Sekarang, mereka membawa Ivan keluar negeri dan melakukan transplatasi jantung di sana.” Jelas Prista.
‘Enam bulan setelah hal itu terjadi, Kini aku memulai hidupku dengan normal. Aku kembali tinggal bersama Prista di sebuah apartemen, Dan melanjutkan pendidikan ku yang terbengkalai.
Enam bulan berlalu, Ivan belum juga memberi kabar. Entah, Dia masih hidup atau..?
Ah, aku tak pernah ingin memikirkan hal itu. Aku yakin dia akan sembuh, Dan kembali menemani ku seperti janjinya.
Hari demi hari, Aku menunggunya dengan setia. Sebagaimana dia telah menunggu ku sembuh dengan setianya.
Setiap sore, aku selalu membawa bunga mawar putih dan duduk di bangku taman gedung Rumah Sakit Jiwa seperti yang ku lakukan bersama Ivan dulu. Sampai pada hari ini…’
Inka berjalan menuju bangku taman, sambil menyapa satu persatu suster yang pernah merawatnya dulu. Sampai ia di bangku taman, Buket mawar putih segar telah menunggu nya.
“Kamu kemana saja? Aku.. Sudah lama menunggu mu.”
Inka membalikkan badan, dan mendapati Ivan telah berdiri di hadapannya dan tersenyum kepadanya, membuat senyuman Inka terbalut tangisan bahagia. Inilah pertama kali Inka merasakan jantungnya berdetak kencang di hadapan Ivan, Dan jantung Ivan yang tetap berdetak kencang untuk Inka.
“Hai! apa kabar, Inka?”
~ Finished ~