Sekitar tujuh tahun yang lalu, aku dan keluargaku tinggal di daerah
pedesaan yang amat ramai dengan banyaknya tetangga. Di rumah tersebut
aku tidak hanya tinggal dengan keluargaku, namun ada nenekku saja karena
kakek sudah meninggal empat tahun yang lalu. Dan selama empat tahun
itu, aku lihat wajah nenekku tidak begitu bersemangat dan hal itu
berbeda ketika masih ada kakek di sampingnya. Aku melihat nenek yang
tidak begitu bersemangat, aku mencoba menghiburnya dengan canda-tawa,
namun hanya sesekali nenek tersenyum dan semua keluargaku termasuk kedua
orangtuaku juga sudah mengajaknya bergurau. Dan hanya aku yang dapat
membuat nenek tersenyum walaupun hanya sebentar saja. Kata ibuku, aku
ini adalah cucu kesayangannya dan itu yang membuat nenek tersenyum
walaupun di dalam hatinya tidak demikian. Karena nenekku suka dengan
anak yang penurut, pendiam dan tidak banyak omong.
Terkadang, nenekku sedih ketika melihat aku dan aku pun tak tahu
kenapa nenekku sedih ketika melihat aku, lalu aku bertanya, “kenapa
nenek kok sedih ketika melihat aku” dan beliau menjawab,” kamu ini masih
muda, kalau aku sakit kenapa kamu juga sakit seperti aku, aku takutnya
kalau aku mati kamu juga ikut mati karena dulu aku juga pernah
mengatakan bahwa lima tahun setelah kakekmu meninggal aku mau
mengikutinya.”
Perkataan tersebut membuat aku meneteskan air mata. Bagaimana tidak
begitu apabila benar itu terjadi, maka dapat dihitung nenekku tinggal
satu tahun lagi hidup di dunia ini dan aku pun menangis sejadi-jadinya
karena aku tidak mau ditinggal orang yang sangat menyanyangiku setelah
kedua orangtuaku. Lalu dia memelukku dengan erat dan aku pun demikian.
Nenekku bertanya, “kenapa kamu menangis.”
“aku tidak mau kehilangan nenek yang paling aku sayangi”
“aku ini kan sudah tua, cepat atau lambat aku juga akan berpulang
kepada-Nya dan aku berpesan kepadamu setelah aku mati, aku ingin melihat
kamu tumbuh menjadi orang sukses dan aku akan memantau kamu di alam
sana.”
Aku bertanya lagi, “bagaimana aku bisa sukses kalau doa dari nenek sudah tidak ada?”
Nenekku menjawab, “doa ku selalu menyertaimu dan satu hal lagi yang
penting, berbaktilah kepada kedua orangtuamu dan setiap bulan sekali
ketika aku telah tiada, aku ingin kamu mengunjungiku.”
Lalu aku hanya bisa terdiam dan menganggukkan kepala karena aku sedih
dengan apa yang diucapkan nenek. Memang dari dulu impian nenek adalah
setelah kepergian suaminya, beliau ingin mengikutinya lima tahun
kemudian dan itu sudah diucapkan kepada semua anaknya.
Kulihat wajah nenek semakin hari semakin ceria saja dan itu membuatku
senang, namun ketika aku teringat tentang impian nenek hatiku terasa
menarah perih dan sakit karena tidak ada lagi yang memanjakan aku lagi
karena dari kecil aku diasuh oleh nenek sedangkan kedua orangtuaku
bekerja dan hal itulah yang membuat aku dekat dengan nenek.
Ketika pada malam hari, aku diajak nenek ke kamarnya karena ada
sesuatu hal yang ingin disampaikannya kepadaku, “nak, kamu sekarang
sudah gede, aku mau memberikan ini padamu dan ini yang akan membuatmu
sukses dan jangan dibuka dulu, tunggulah ketika aku sudah dipanggil yang
kuasa.”
Mendengar perkataan itu, hatiku seperti disambar petir karena aku merasa
nenekku ingin meninggalkan dunia ini dan akan terjadi sebentar lagi.
Lalu nenek melanjutkan ucapannya, “jangan bersedih aku akan
mendoakanmu terus-menerus karena aku ingin hidup selamanya bersama
kakekmu yang sangat aku cintai.”
Aku hanya bisa mengangguk tanpa sepatah kata pun terucap karena di
dalam hatiku, aku menahan rasa sedih yang begitu dalam. Pada malam itu
nenek menyuruhku tidur bersamanya karena ingin menghabiskan sisa umurnya
bersamaku walaupun hanya sebentar dan aku pun tidak mau menolak
keinginan nenek.
Setelah aku tidur bersama nenek selama tiga hari, senyum nenek
semakin lebar dan beliau mengucapkan, “terima kasih cucuku, kamu telah
memberikan hadiah teristimewa di akhir hidupku.”
Dan disuruh semua anaknya berkumpul. Setelah semua berkumpul, nenek
mengucapkan kalimat Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna
Muhammadan abduhu wa rasuluh dan Allahu akbar dan nenek menutup mata
untuk selama-lamanya. Nenek tetap tersenyum meskipun nadinya tidak lagi
berdenyut.
Kami semua menangis tiada henti-hentinya dan di sisi lain aku senang
karena nenek meninggal dunia dalam keadaan islam karena ketika masih
hidup, beliau tidak pernah meninggalkan shalat, mengaji dan shalat
sunnah lainnya.
Setelah tujuh hari kepergian nenek, aku mencoba membuka isi kotak
yang diberikan nenek kepadaku dan isinya adalah alqur’an, alat shalat,
panduan doa-doa, dan sepucuk surat.
Dan isi suratnya yaitu:
Cucuku yang paling aku sayangi, kutitipkan semua itu kepadamu dan itu
punya kakek kamu aku ingin kamu bisa menjadi penerus seperti kakek. Dan
untuk sukses tidaklah sulit, kamu hanya mendekatkan diri kepada Allah
SWT karena kesuksesan hanyalah Allah yang menentukan. Renungkan hal itu
dan lakukanlah.
Dan dari isi pucuk surat aku sudah paham, kesuksesan hanyalah milik
allah dan kita sebagai umatnya harus meminta itu dengan cara menjalankan
perintahnya dan menjauhi larangannya. Sebagai rasa sayangku yang amat
dalam kepada nenekku aku akan mencoba untuk menjadi apa yang diinginkan
dan nasehat itu akan selalu ku kenang dan akan menjadi sebuah nasehat
terindah yang pernah aku dengar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar