“maafkan aku membuatmu menunggu hingga sampai larut seperti ini..” ujar ilham memulai perbincangan mereka.
“iya.. kamu nyebelin banget sih.. Ini sarabah sampe dingin dibuatnya..” Ujar nira sembari cemberut..
“maaf.. maaf ya.. itu kok jadi tambah bontet keliatannya kalau cemberut.. hahahaha” ujar ilham bercanda..
“nahh.. mulai lagi kan.. ntar aku ngilang lagi loh, huft..” balas nira sembari mencubit lengan ilham.
“aduh.. sakit..sakit.. ahahahaha”
“aku juga mau minta maaf, bukan ngak mau balas, Cuma agak sedikit sibuk
juga akhir-akhir ini aku kaget juga loh abis baca pesanmu” ujar nira
sembari menyeruput sarabah bersama ilham.
“ah. masa sih?, eh ini enak juga ya, meski udah dingin tapi tetap anget.. mirip bandrek?”
“iya.. ini namanya sarabah kalau di makassar, eh ini ada pisang epe,
kamu belum makan kan?” sembari membuka bungkusan hitam tadi, berisi
beberapa potong pisang yang sedikit kehitaman yang dipipihkan dan juga
ada semacam saus dari durian, dibungkus rapi dengan daun pisang.
“ah.. terima kasih, kebetulan sekali aku baru makan tadi pagi..” ujar
ilham bersemangat sembari mengigit pisang yang diberikan nira.
“ee.. enak.. hehe, enak sekali..” ujar ilham berseru, sembari memakan pisang tersebut dengan lahapnya.
“itu asli makassar loh, pisang epe namanya, di bengkulu nga ada kan?, heheheh” ujar nira terkekeh.
“yeee.. iya sih.. tapi ini sausnya saya sulap jadi makanan enak ya..
Lihat..” Ujar ilham sembari merogoh sesuatu dari dalam tasnya, nira
kebingungan melihatnya.
“tadaaa.. Lempuk, ayo dicoba, ketagihan ngak ditanggung loh..” ujar
ilham sembari memberikan sebuah makanan mirip dodol yang dibungkus rapi
dengan kulit jagung yang telah menguning
“wah, dari durian yak? Enak. enak.. heheh, jadi mau ke bengkulu nih kapan-kapan, hehe” balas nira dengan senyum manisnya.
Keduanya berbincang begitu lama, banyak yang mereka ceritakan yang
tak sempat mereka katakan hanya melalui chatting, tanpa terasa hari
sudah menunjuk pukul 10 malam..
“aduh gimana ya, aku musti ke penginapan di sekitar universitas hasanudin, naik apa bagusnya?” tanya ilham ke nira
“aku bawa motor kok, naik motorku aja, nanti aku antar sampe kesana sekalian aku mau pulang..”
“yang bener..?”
“engakkk..!!!” ujar nira sebal.
“maaf.. maaf deh, yuk dimana motornya..?” tanya ilham
“itu disana.. Ayo..” jawab nira sembari menunjukkan ke arah motornya
“jadi siapa yang bawa nih..?” Tanya nira..
“hmm.. lucu juga ya kalau dibonceng cewek, baiklah kalau gitu, aku yang bawa tapi nanti kamu kasih tahu jalannya..”
“siap bos..” Jawab nira.
Ilham membawa motor perlahan sesuai dengan petunjuk dari nira,
begitupun nira begitu bersemangat menujukkan arah jalan ke ilham..
keduanya begitu bahagia, tak perlu diungkapkan lagi betapa mereka berdua
saling menyukai, dan tak perlulah untuk sekedar mengatakan “I love you”
untuk mengikat jalinan kasih mereka berdua..
Hati yang tertaut.. Meski jarak yang jauh memisahkan mereka.. ilham teringat akan kata-kata kak samil tempo dulu,
“cinta akan datang tepat ketika kita memang benar membutuhkannya,
sekarang tuhan menganggap ada hal yang lebih penting yang harus kau
pikirkan, sehingga ia menghalangimu untuk merasakan cinta semu itu,.”
“ingatlah.. Ada gadis yang jauh lebih baik yang tengah menunggu kau hampiri, percayalah.”
Ilham tersenyum sendiri mengingat hal tersebut, angin mamiri menerpa setiap senti di wajahnya..
Motor yang dikendarai ilham berhenti di depan sebuah universitas yang
begitu besar.. megah.. universitas hassanudin kebanggan warga makassar.
“terima kasih banyak ya nir..” ujar ilham dengan tersenyum lega..
“jadi begini aja nih? Ongkosnya mana..?” Canda nira..
Ilham kebingungan ia merogoh kantong sakunya
“hahahaha, becanda ding.. jadi kapan selesai acaranya ham?” tanya nira
“seminggu sih.. udah itu langsung pulang..” Ujar ilham pelan..
Wajah nira berubah sedih, ia tak menyangka pertemuannya hanya akan sesingkat ini.
“tapi saya usahakan akan selesai 1 hari sebelum acara selesai..” ujar ilham bersemangat
Seketika wajah nira berubah begitu bahagia..
“haa.. yang bener?, jadi bisa jalan-jalan donk.. nanti ketemuan dimana?” ujar nira bersemangat.
“hemmmm.. dimana yaaa..?” gumam ilham berpikir,
“gimana kalau.. Bujang raflesia ini mekar di losariii..?” Tanya ilham..
“hahahaha.. boleh juga.. akhirnya doaku terjawab..” Balas nira keceplosan lagi sama seperti ketika terakhir mereka chatting..
“haa.. Doaa?” goda ilham..
“ngak. ngak.. aku salah bilang tadi, ya udah.. minggu depan pagi-pagi di
tulisan losari ya..!!!” ujar nira sembari segera berlalu dengan wajah
merah meronanya menahan malu..
“siappp..” teriak ilham begitu bahagia, ilham melihat bulan purnama yang
bersinar terang malam itu, sebuah terang bulang yang sempat dahulu juga
ia lihat.. berbeda kali ini ia melihatnya dari tempat yang jauh
berbeda, dan juga mungkin ia tak sendiri melihatnya, karena sang gadis
berkeredung merah tadi juga sejenak melihat ke arah bulan purnama
tersebut.
Diam-diam ilham sempat memfoto nira yang tengah mengendarai motornya
sebelum pergi begitu jauh, terlihat di hape jadulnya, sesosok gadis
berkerudung merah tengah mengendari motor di tengah ketenangan malam di
makassar disinari terang rembulan di ujung sana.
Meski begitu bahagia dengan pertemuannya dengan nira, ilham tetap
fokus dengan tujuan utamanya untuk datang kesini, mengikuti munas
sekaligus training yang berkaitan erat dengan unit yang ia jalani di
organisasi di universitas bengkulu.
Ia berkenalan dengan banyak orang baru dan mendapatkan ilmu serta
pengalaman yang begitu banyak dari kegiatan ini, hingga akhirnya ilham
menyelesaikan kegiatan disini lebih cepat sesuai dengan janjinya
terhadap nira.
Pagi-pagi itu ia sudah bergegas menaiki pete-pete sebutan untuk
angkot di makassar untuk segera menuju losari, tampak begitu ramai
disana karena bertempatan dengan akhir pekan.
“terima kasih pak..” ujar ilham sembari memberikan uang 3 ribu rupiah ke sopir pete-pete tersebut,
Ia terlihat kebingungan mencari sosok tersebut, sosok gadis manis
berkerudung merah yang seperti mimpi ia temui minggu yang lalu, ia
mencari diantara kerumunan orang yang begitu ramai dengan aktifitasnya
masing-masing..
Masih tak ada.. ia tak ada disini, berulang kali ilham mencarinya namun tak ia temukan gadis tersebut..
Ilham berlari ke arah kerumunan orang yang begitu ramainya berharap si
gadis berkerudung merah tersebut ada disana, namun hanya pagelaran
topeng monyet yang ia temui.
Ilham berlari ke arah gadis-gadis yang begitu ramai di sebuah sudut
dekat tulisan makassar yang begitu besar, namun tak juga ia jumpai gadis
manis tersebut.
Ilham berlari ke arah parkiran motor, siapa tahu gadis tersebut ada disana menunggunya, namun juga tak ia temukan nira disana..
“dimana kau nira?” Gumam ilham cemas.. ia yakin gadis itu tak akan mengingkari janjinya
Hingga akhirnya ilham kelelahan.. dan duduk di salah satu tempat di
losari, ia menunggu.. menunggu gadis itu datang menghampirnya, ingin ia
menghubunginya namun percuma, ia lupa bertanya alamat dan nomor telpon
nira.
Akhirnya hanya menunggu yang dapat ilham lakukan saat itu..
Tak terasa adzan ashar pun berkumandang dari masjid amirul mukminin, masjid terapung yang berada disana..
Nira tetap tak kunjung tiba, akhirnya ilham pergi ke masjid tersebut
untuk sholat ashar.. ia tak yakin gadis itu akan datang sesore ini.
Ilham menuju masjid tersebut, tampak tak begitu ramai, hanya ada 1 – 2
orang yang juga beribadah, ilham mengambil wudhu dan sholat juga
disana.
Ilham heran, selama ia sholat ada sesosok yang juga sholat disana,
seorang gadis, namun ilham tak tahu itu siapa, gadis itu mengikuti
seperti sedang di imami oleh ilham, hingga ketika ilham selesai sholat
dan mengucapkan salam, iya segera menoleh kesana namun tak ia temui
sesosok gadis itu..
Ilham berpikir ia hanya berhalusinasi..
Tanpa ia sadari memang ada sesosok gadis yang menjadi makmumnya
beberapa saat yang lalu, yang sedang bersembunyi di balik tembok masjid
dan memperhatikannya..
Dia adalah nira, ia sedari tadi bersembunyi mengikuti ilham dari
belakang, ia sangat ingin bertemu dan menghabiskan hari bersamanya,
namun setelah merasa kehilangan selama 1 minggu ini, nira tak sanggup
untuk sekedar bertemu yang pada akhirnya akan kembali berpisah hingga
waktu yang tak tahu kapan datangnya.. Perih hati nira tak bisa mendekati
sesosok lelaki yang ia cintai ini, yang tak ia sadari betapa lebih
perihnya lagi hati pemuda tersebut yang tak bisa bertemu dan
bercengkrama bersamanya pada hari itu.
Hari kepulangan ilham ke bengkulu akhirnya tiba juga, menaiki sebuah
bus yang telah disiapkan oleh panitia di universitas hassanudin, meraka
akan segera berangkat ke bandara sultan hasanudin untuk pulang ke daerah
masing-masing.
Berulang kali ilham mencek dan mengirim akan keberadaan nira, namun
nira tak juga kunjung aktif sama seperti sebelumnya, ilham gusar, namun
ia tetap berusaha untuk ikhlas.. mungkin memang tak mungkin menjalin
sebuah hubungan di tengah jarak yang bahkan terlalu jauh untuk mereka
dua jangkau, sebuah hal yang begitu mustahil di mata ilham.
Mobil bus tersebut berjalan dengan kencang menuju bandara setelah
melewati satu-satunya jalan tol yang ada di makassar, mereka harus cepat
karena, keberangkatan pertama sudah hampir tiba waktunya, hingga ketika
bus tersebut melewati gerbang untuk memasuki bandara sultan hasanudin,
ilham dibalik kaca bus tersebut melihat sesosok gadis berkerudung merah
yang tengah duduk di motornya, segera ilham membuka kaca bus tersebut..
“NIRAAA..!!!” teriak ilham kecang.. membuat seluruh orang disana terkaget–kaget begitupun nira yang tengah termenung disana
Nira terhentak dan melihat ke arah sebuah bus, air mata mengalir begitu deras dari sudut matanya..
“ILHAMMM..!!!” teriak nira sekencang–kencangnya sembari melambaikan tangan.
“KITAAA PASTIII AKAN BERTEMU LAGIIII..” teriak ilham lagi sembari tersenyum meski tanpa ia sadari airmata meleleh di pipinya,
Nira hanya terus tanpa henti melambaikan tangannya, airmata tak henti
jatuh di pipi manisnya yang tersenyum melihat kekasihnya tersebut.
“Yakinlah suatu hari nanti kita akan bertemu lagi dan tak akan ada yang menghalangi kerbersamaan kita..” ujar ilham lirih
“kita pasti akan bertemu lagi dan akan selalu bersama..” Gumam nira lirih..
Gemuruh bunyi burung besi tersebut memecah keheningan pagi di
makassar, gadis manis berkerdung merah tersebut menatapnya begitu lekat
sembari duduk di atas motor bebeknya, melihat seseorang yang ia cintai
pergi jauh meninggalkannya, begitu juga pemuda tampan berkacamata minus
tersebut, menatap daratan makassar tiada henti, melihat tanah tempat
seseorang yang ia cintai haru ia tinggalkan disana..
Namun keduanya tetap berkeyakinan, suatu hari nanti iya.. Suatu hari
nanti keduanya akan bertemu kembali entah kapan waktu tersebut akan
tiba.
1,5 tahun kemudian
Hari itu adalah hari wisuda ilham, ia akhirnya mendapatkan predikat
gelar S1 nya dengan nilai cum laude.. hari yang begitu bahagia.. Ia
bersama orangtua dan beberapa keluarga dan teman-temannya, termasuk kak
samil dan bang welly ikut merayakan kelulusan tersebut?
Ia.. kak samil dan bang welly pada akhirnya harus disusul oleh adik
tingkatnya ini karena mereka berdua terlalu lama menyelesaikan skripsi,
kak samil sendiri bukan tanpa alasan, skripsinya ditolak karena
idelismenya yang tinggi akan judul yang ia angkat hingga pada akhirnya
ia bertemu dengan dosen yang memiliki pemahaman yang sama dengannya,
Pun begitu dengan bang welly, sibuk dengan kerjaan sehingga skripsinya baru tuntas berbarengan dengan adik kelasnya tersebut.
“selamat ya ham..” ujar sari yang tiba-tiba datang menghampiri ilham,
ia bersama seorang lelaki tampan dan tinggi yang merupakan kekasihnya.
“owh sari, terima kasih, selamat juga ya atas wisuda dan
pertunangannya..” ujar ilham tersenyum meski sedikit perih melihat
pasangan ini, namun ia singkirkan jauh-jauh dan ia salami keduanya
dengan erat.. terutama dengan lelaki tersebut, jabatan tangan yang
begitu erat seolah berharap agar lelaki tersebut segera menikahi sari
dan akan selalu melindungi dan menjaga sari.. ia bahagia melihat sari
dapat bahagia bersama dengan pasangannya.
“bang ilhammm..!!!” tiba-tiba seseorang memanggilnya dari kejauhan..
“ada apa der?” tanya ilham kebingungan dengan adik tingkatnya ini yang
bisa dibilang the next bang welly karena ia sekarang yang jadi hantu lab
komputer di fakultas ekonomi.
“lulus.. abang lulus S2 di UGM..!!! Selamat ya..” seru deri bersemangat
sembari memberi print pengumuman nama-nama yang lulus beasiswa S2 di
UGM, ilham memang mengajukan beberapa beasiswa S2 kebeberapa
universitas, ia belum berminat untuk langsung kerja tetap dengan
ijazahnya saat ini, ia ingin menimba ilmu dan mencari pengalaman di
tempat lainnya.
Sedikit kecewa memang, karena ilham lebih berharap bisa untuk lulus di
S2 universitas hassanudin makkasar, untuk memenuhi janjinya kepada nira.
semenjak perpisahan itu, nira menghilang dari dunia maya, akun
facebooknya tiba-tiba tutup tanpa alasan yang jelas.
Ia ambil kertas tersebut dari deri meski dengan susah payah ia
membaca tulisan di dalamnya karena bang welly dan kak samil sibuk
merangkulnya dengan erat untuk memberikan selamat kepada adik tingkatnya
ini.
Ia baca satu persatu nama di pengumuman tersebut.. terdapat nama
peserta, asal universitas dan juga informasi tambahan seperti nomor
kontak dan alamat peserta,
..Ilham firdaus (universitas bengkulu), randi sanjaya (stt telkom), tika
wulandari (universitas andalas), ririn anita nurfajrin (universitas
negeri riau), fina agustina (universitas cendrawasih), redho firdaus
putra (universitas dehasen), nira marselina (universitas hassanudin
makassar)..
“nira?, nira marselina?..” ujar ilham keheranan..
Ia baca sekali lagi dan ternyata itu memang benar nira.. nira yang
selama ini ia tunggu.. yang selama ini ia harapkan kehadirannya, meski
hanya dalam mimpi, dan yang selama ini ia harapkan agar bisa bersama.
Keduanya saling menepati janjinya masing-masing, janji untuk kembali bertemu, dan janji untuk kembali bersama..
Tiba-tiba handphonenya berdering.. berulang kali.. Segera ia lihat dan dari sebuah nomor yang tak ia kenal..
“raflesia bakal mekar di malioboro juga nih..” suara merdu datang dari ujung sana..
“ia, tapi kali ini ia tak akan sendiri, tapi bakal ditemani dengan gadis pisang epe..”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar