“Ivan.. Selamat ya, sayang. Akhirnya kamu lulus. Jadi, kamu akan
mengambil spesialis apa, Nak?” Suara di seberang sana berbisik di
telinga Ivan.
“Terima kasih, Ma.” Kata Ivan, kemudian berfikir sejenak.
“Aku telah memutuskan untuk mengambil spesialis kejiwaan.” Lanjut Ivan.
“Apa? kenapa?”
“Gadis yang Ivan cintai sedang bersedih.. Begitu bersedihnya, hingga ia tak dapat menopangnya sendiri..”
“Ivan.. Apa dia adalah Inka?”
“Iya, ma. Ivan mencintainya sebelum Kenneth, tetapi Sekarang Kenneth lah yang meminta Ivan menjaganya..”
Agustus, 2013
Inka duduk di panggung senja bersama buket bunga mawar putih. Tatapannya begitu kosong.
Ivan mendekati Inka dan memandangi wajahnya.
“Di saat keadaan mu yang seperti ini pun, Jantungku selalu berdegup kencang..” Ungkap Ivan.
Ia memeluk Inka, Untuk yang pertama kali.
“Aku mencintai mu, Inka. Izinkan aku menggantikan Kenneth, kakak ku.” Bisik Ivan.
Ivan memperhatikan Inka yang tetap tanpa ekspresi. Wajahnya bagitu datar, tatapannya begitu kosong.
“Tapi, bahkan kamu tak pernah melihat orang lain setelah Kenneth.” Kata Ivan.
Ia beranjak meninggalkan Inka dengan kesedihannya.
Inka menatap langkah Ivan yang semakin menjauh, dan air matanya mulai menetes.
“Ivan..” Panggilnya lirih.
—
Pagi ini Inka telah duduk di bangku taman, Ia memeluk buket bunga mawar putihnya.
Ivan berlarian menghampirinya,
“Inka, kenapa kamu harus kabur dari kamar saat sarapan? Kamu harus makan..” Kata Ivan dengan nafas yang memburu.
Inka meneteskan air matanya, Ivan terkejut melihat Inka bersedih.
“Inka, Apa ada yang menyakiti mu?” Tanya Ivan, pertanyaan yang tentu tak akan terjawab.
“Maaf jika aku menyakiti mu, Aku hanya tak ingin kamu lupa makan..” Lanjutnya.
Namun, air mata tetap membasahi wajah datar Inka.
“Kamu.. Bersedih karena Kenneth?” Ivan menunduk bersedih.
“Kenneth.. Pasti baik-baik saja di sana..” Ivan berusaha tersenyum.
“Kamu lihat awan di sana?” Ivan menunjuk awan putih tebal di hamparan langit biru.
“Kenneth sedang mengintip mu dari sana. Dia pasti sedih melihatmu seperti ini.” Lanjutnya.
“Seperti aku yang bersedih, karena mencintai mu di balik bayang-bayang kakak ku sendiri.” Ivan berkata dalam hati.
Ivan teringat akan sesuatu. Ia pergi sejenak, kemudian kembali dengan gitar akustiknya.
Ia mulai bernyanyi sambil menatap awan putih, Sesekali ia menatap wajah Inka dan meneteskan air matanya.
Aku sadari engkau pernah dengan dirinya,
Dan di dalam hati mu masih ada namanya.
Mohon ijinkan aku untuk mendekati diri mu,
Dan meyakinkan engkau bila ku mengharap mu.
Walau aku harus seberangi lautan,
Dan mendaki gunung tinggi ambil bintang untuk mu.
Walau aku harus mengitari bumi,
Mencari sesuatu yang bisa membuatmu tertawa..
Bagaimana caranya agar engkau mengerti yang selalu di hati hanyalah dirimu?
Sudah berbagai cara telah ku lakukan,
Walaupun harus terjatuh aku tak akan pernah menyerah!
Hari berganti seiring dengan ku mencoba mendapatkan hati mu,
Mendapatkan cinta mu.
Namun yang kau berikan tetap diam dan membisu,
Tapi aku tak akan pernah untuk mencoba!
(Rama ~ Tak kan Menyerah)
“Inka, Sebenarnya aku sangat marah pada Kenneth. Ia meninggalkan mu,
dan sejak itu.. Kamu tak pernah lagi menikmati indahnya dunia ini. Tapi,
aku lebih marah pada diri ku sendiri. Yang tidak pernah bisa
mengembalikan indah dunia itu pada mu. Bahkan, sampai tiga tahun telah
berlalu..”
“Jangan pernah menderita karena orang yang meninggalkan mu, karena
aku akan tetap di sini untukmu, menemani mu sampai kapan pun.. Kamu
dengar itu, Inka?”
Ivan memeluk Inka lebih lama dan lebih dalam dari sebelumnya, kemudian beranjak pergi. ia tak dapat menahan kesedihannya lagi.
Dan Inka kembali merasakan sesuatu yang hangat mengalir di pipinya.
Hari telah sore.
Ivan berjalan cepat, Buket bunga mawar putih telah di genggamannya. Tetapi matanya masih mencari sosok Inka.
“Dokter Ivan!” Seseorang memanggil Ivan dan berlari ke arah nya.
“Ada apa, sus?”
“Pasien Inka tidak ada di tempat.”
“Apa? Kamu yakin sudah mencarinya?”
Suster di hadapan Ivan mengangguk.
Tanpa berkata lagi, Ivan mencari kembali Inka di seluruh sudut Rumah Sakit.
Inka tak di temukan juga. Ivan terlihat sangat khawatir.
Ivan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju pada sebuah tempat, dan berhenti di area pemakaman.
“Kenneth, Kamu apa kabar?” Ivan berjongkok di samping gundukan hijau berbatu nisan.
“Kamu pasti puas. Inka.. Dia selalu mengingat mu dalam hatinya. Kamu
tahu? Dan ia tak pernah sekalipun menyebut nama ku dari bibir nya.” Ivan
tersenyum kecil, sambil menghapus air mata yang sempat tumpah.
“Kenneth, Aku mohon. Ijinkan aku menjaganya. Bantu aku menemukannya, sekalipun kamu tak akan merelakannya untukku.”
—
Ivan melihat Inka berdiri di jalanan kota jogja dimana Ivan pernah
melihatnya bersama Kenneth. Inka masih menenakan seragam rumah sakit,
sepertinya ia hendak menyebrang jalan raya yang dipenuhi mobil dan motor
yang berlalu lalang.
Ivan menghampiri Inka dan meraih tangannya, Namun Inka menghempaskan
tangannya ke udara. Ia melepaskan genggaman Ivan dan berlari. Saat ia
akan mengejarnya ia melihat datang sebuah truk berwarna putih dengan
kecepatan tinggi dan tak disadari Inka. Suara klakson tentu saja
berbunyi panjang ketika mobil itu telah mendekati Inka.
Ivan berteriak sekencang-kencangnya.
“INKAAAAA!!!”
Syukurlah… syukurlah Ivan berhasil menariknya dan memeluknya sehingga
tak terjadi sesuatu yang buruk kepadanya. Jika itu terjadi, Ivan tak
tau harus berbuat apa. Dalam sekejap, kaki dan tangan Ivan membeku. Ia
masih terus mendekap Inka erat. Dan melihat ketakutan yang mendalam di
matanya. Ia menggigit kukunya dengan gemetaran, sedangkan orang-orang
berkerumun mengelilingi mereka.
Ivan mulai merasakan sakit. Sakit yang teramat sangat di dalam dadanya, sampai tangannya memegangi dadanya erat.
Inka masih menggigit kukunya dengan ketakutannya.
Ivan tersenyum lega melihat tak sedikit pun Inka terluka.
Keringat dingin mulai bercucuran di kening Ivan. Telapak tangannya
juga terasa basah dengan keringat. Ada yang mencengkeram jantungnya
hingga sulit berdetak.
Ivan jatuh. matanya masih tetap memandang Inka, Dan masih tersenyum untuknya sambil menahan rasa sakitnya.
“Ivan..”
“Kamu.. Menyebut nama ku?” Ivan gembira mendengar suara Inka menyebut namanya.
Inka mulai bereaksi mendekati Ivan yang kesakitan.
“Ivan!” Inka mendekati Ivan dan menggenggam tangannya.
Meskipun menahan rasa sakit, Ivan tetap menggenggam tangan Inka dengan lembut dan tidak mencengkeramnya.
Inka kebingungan, namun kemudian ia mengingat Kenneth.
“Jangan ulangi kesalahan Kenneth. Katakan! Kamu juga mempunyai penyakit jantung sepertinya?” Inka bertanya tegas.
Ivan tersenyum mengetahui perkembangan Inka.
“Jawab!” Bentak Inka.
Ivan mengangguk pelan.
—
Inka berlarian senada mengiringi roda ranjang Ivan.
“Bertahanlah! Aku mohon!” Pinta Inka. Tangannya tak pernah ia lepaskan dari Ivan, sampai Ivan masuk ke dalam ruangan rawatnya.
Inka terduduk lemah, Jantungnya berdegup kencang.
“Inka!” Prista menghampiri Inka dengan seragam perawatnya.
“Kamu sudah sembuh?” Ia terlihat senang mengetahui sahabatnya telah sembuh.
“Pris, Ivan! Dia punya penyakit jantung seperti Kenneth. Sekarang dia
di dalam.” Jelas Inka, namun Prista hanya menunduk menyesal.
“Pris, kenapa? Jangan katakan kamu juga sudah mengetahui nya?!”
“Ivan itu memang pasien jantung di sini. Waktu aku tahu tentang itu,
Aku mengingatkan tentang Kenneth. Aku tidak bisa membiarkan mu
kehilangan dua kali dengan cara yang sama. Tetapi, Menurut Ivan kamu
tidak akan peduli padanya apapun keadaannya. Kamu tidak akan pernah
mencarinya jika ia sekarat, Dan kamu tidak akan menangisinya jika ia
meninggal.” Cerita Prista.
“Apa?”
“Inka, Cita-cita Ivan untuk menjadi Dokter spesialis jantung agar
bisa mengobati dirinya sendiri pupus, Saat dia memutuskan untuk menjadi
Dokter spesialis kejiwaan agar dapat menyembuhkan mu.”
Inka terdiam, Sendi-sendinya tak mampu lagi menopang kenyataan.
“Ivan mencintai mu sebelum Kenneth ada di dalam kehidupan kamu.
Tetapi, dia adalah orang yang paling marah ketika Kenneth membatalkan
pernikahannya dengan mu..”
Prista menjatuhkan air matanya,
“Kamu selalu sibuk dengan penderitaan mu sendiri, Tanpa peduli ada orang yang lebih menderita memikirkan mu.”
“Cukup, Pris! Kamu ingin aku lebih merasa bersalah dari ini?”
Prista memeluk Inka yang menangis sejadi-jadinya.
Belum sempat ku membagi kebahagiaan ku,
Belum sempat ku membuat dia tersenyum,
Haruskah ku kehilangan tuk ke sekian kali?
Tuhan ku mohon jangan lakukan itu..
Sebab ku sayang dia,
Sebab ku kasihi dia,
Sebab ku tak rela tak selalu bersama,
Ku rapuh tanpa dia,
Seperti kehilangan harap..
Jikalau memang harus ku alami duka,
Kuatkan hati ini menerima nya.
(Agnes monica ~ Rapuh)
—
Yang Inka takutkan terjadi. Ivan telah mencapai tahap akhirnya, Tak
ada yang bisa dilakukan Dokter kecuali Transplatasi jantung. Itu juga
lah, yang akan di lakukan Inka untuk menebus kesalahannya pada Ivan.
Inka dan Ivan telah siap di meja operasi. Selagi bisa, Inka menatap
Ivan yang terpejam sepuas hatinya. Bibirnya yang merah itu senantiasa
tersenyum pada Inka sekalipun Inka tak pernah membalasnya. Mata itu
selalu terjaga untuk memastikan tak ada hal buruk yang terjadi pada Inka
sekalipun Inka tak peduli apa yang akan terjadi padanya. Tangan itu
yang selalu menarik Inka ketika ia akan terjatuh ataupun menjatuhkan
dirinya. Dan, Tubuh yang kini lemah itu selalu menopang segala yang tak
sanggup di topang Inka. Ivan..
“Aku ingin kamu selalu ada untukku… Walaupun tanpa ku katakan kamu
pasti selalu menemaniku… Namun kali ini berbeda.” Inka meraih tangan
Ivan dan menggenggamnya.
“Dulu aku selalu berfikir untuk pergi bersama Kenneth. Tetapi ketika
sekarang aku ingin bersama mu, Aku justru harus pergi dengan Kenneth.”
Air mata Inka mulai meleleh.
“Akhirnya semua ini akan berakhir juga..” Inka mempererat genggamannya.
Inka telah siap, dan perlahan pandangannya telah buram. Ia tahu,
itulah terakhir kali ia menatap terangnya dunia. Setelah itu, Ia akan
meninggal.
—
Inka berbaring di hamparan rumput memandangi hamparan langit tanpa
awan. Senyumnya mengembang. Di sisi kanan, telah hadir Ivan yang
menemaninya.
“Kenapa Kamu di sini?” Tanya Inka.
“Memangnya kenapa?” Tanya Ivan.
“Bukan kah ini alam ku? Bukan kah aku sudah mati?”
Ivan tersenyum,
“Kamu fikir aku akan membiarkan mu mati? Sendirian? Aku belum puas bersama mu.” Jelasnya.
“Aku juga tidak akan membiarkan Ivan membunuh mu untuk hidupnya.”
Inka terkejut, Seseorang berkata dari samping kirinya.
“Kenneth?”
“Aku tidak akan membuat Ivan tenang, jika dia mencintai orang lain
dalam hidupnya, sedangkan dia hidup dengan jantung mu.” Kata Kenneth.
Inka bangkit dan berdiri,
“Apa kalian ini sepakat untuk meninggalkan ku dengan cara yang sama?”
Untuk pertama kalinya, Inka melihat Kenneth dan Ivan tertawa bersama.
Inka kesal dan beranjak meninggalkan mereka berdua. Tetapi ketika membalikkan badannya kembali, Inka telah sendiri.
“KENNEEETH!!!”
“IVAAAN!!!”
—
Inka membuka matanya perlahan dan mendapati nuansa putih di ujung matanya.
“Kamu sudah bangun?”
Inka heran ketika mendapati Prista di sampingnya.
Inka pun tak merasa sakit, karena memang tak ada bekas sayatan pisau operasi pada dadanya.
Dan kemudian ia mengingat, Jika bukan dirinya yang pergi. Tetapi Ivan yang memilih bersama Kenneth. Apakah itu berarti..?
“Ivan! Dimana dia, Pris?” Inka terlihat cemas.
“Tenanglah.. Tadi sebelum operasi dimulai, Orangtuanya Ivan datang.
Dia yang menghentikan semuanya. Karena Kenneth dan Ivan tidak akan bisa
memaafkan mereka jika membiarkan mu melakukan itu. Sekarang, mereka
membawa Ivan keluar negeri dan melakukan transplatasi jantung di sana.”
Jelas Prista.
‘Enam bulan setelah hal itu terjadi, Kini aku memulai hidupku dengan
normal. Aku kembali tinggal bersama Prista di sebuah apartemen, Dan
melanjutkan pendidikan ku yang terbengkalai.
Enam bulan berlalu, Ivan belum juga memberi kabar. Entah, Dia masih hidup atau..?
Ah, aku tak pernah ingin memikirkan hal itu. Aku yakin dia akan sembuh, Dan kembali menemani ku seperti janjinya.
Hari demi hari, Aku menunggunya dengan setia. Sebagaimana dia telah menunggu ku sembuh dengan setianya.
Setiap sore, aku selalu membawa bunga mawar putih dan duduk di bangku
taman gedung Rumah Sakit Jiwa seperti yang ku lakukan bersama Ivan dulu.
Sampai pada hari ini…’
Inka berjalan menuju bangku taman, sambil menyapa satu persatu suster
yang pernah merawatnya dulu. Sampai ia di bangku taman, Buket mawar
putih segar telah menunggu nya.
“Kamu kemana saja? Aku.. Sudah lama menunggu mu.”
Inka membalikkan badan, dan mendapati Ivan telah berdiri di
hadapannya dan tersenyum kepadanya, membuat senyuman Inka terbalut
tangisan bahagia. Inilah pertama kali Inka merasakan jantungnya berdetak
kencang di hadapan Ivan, Dan jantung Ivan yang tetap berdetak kencang
untuk Inka.
“Hai! apa kabar, Inka?”
~ Finished ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar