Aku mengenalnya dari sahabat terbaikku. Dia seseorang yang ramah dan
selalu tersenyum pada semua gadis. Ya, termasuk aku salah satunya.
Seperti pada sebuah istilah “Cinta pada pandangan pertama” entah memang
istilah itu terlalu berlebihan atau entahlah bagaimana, tetapi memang
itulah kenyataannya. Bahkan bisa dibilang sekarang aku sedang
merasakannya.
Izal itulah namanya. Dia itu teman pacar sahabatku. Padahal kami baru
berkenalan beberapa hari yang lalu, tapi entah mengapa Izal selalu
memberikan perhatian yang lebih padaku. Senang rasanya bisa mengenal
Izal.
Setiap sahabatku, Wina bertemu dengan kekasihnya, Andy. Izal selalu
ikut dengan mereka. Jadi, enggak ada salahnya kan kalau aku ikut juga
he.. he.. he.
Kami berempat selalu nongkrong di tempat makan. Bercanda tawa bersama
sambil bermain TOD, atau bisa dibilang Truth Or Dare (Jujur atau
Berani). Kadang jika salah satu di antara kami memilih tantangan,
biasanya kami menantang seseorang di antara kami untuk bernyanyi
sekencang-kencangnya atau menari depan semua orang ha.. ha.. ha pokoknya
kita selalu melakukan hal konyol setiap kali kita bertemu. Seperti
tidak ada rahasia lagi di antara kami berempat. Hingga aku mulai merasa
rasa ini semakin dalam pada Izal.
“Az, kok kamu makannya sedikit gitu sih?” tanya Izal yang
menyadarkanku dari lamunan. Ia menatap kebingungan, melihatku yang hanya
makan secuil nasi dan ayam goreng saja. Aku mendadak tersendak. Salah
tingkah.
“Enggak apa-apa kok, Zal” jawabku lalu aku membisikkannya dengan nada
pelan sambil mendekati telinganya, “Maklum Zal, aku ngirit hehehe” Izal
yang tadi terlihat khawatir, sekarang pria yang ada di sampingku itu
malah tertawa sambil memandangiku.
Lalu Izal malah membalas bisikanku tadi, ia pun mengecilkan nada
suaranya sambil mendekati telingaku. “Aku akan membagi makanan ini
denganmu. Agar kamu tidak disangka mengirit.” Ucap Izal yang langsung
tersenyum padaku setelah mengatakan hal itu. Aku membalas senyumannya.
Aku sungguh bahagia melihat tingkah lakunya saat ini.
Tidak selesai sampai disitu. Kami berdua malah asik berbisik-bisik
sambil tertawa terbahak-bahak hingga Wina dan Andy kebingungan melihat
tingkah laku kami berdua.
Baru 3 minggu aku mengenalnya. Tapi rasa ini semakin hari semakin
besar. Aku terlanjur menyukainya, entah karena sikapnya yang terlalu
baik atau karena aku terlalu nyaman berada di dekatnya.
Ke-9 kalinya kami berempat jalan bersama. Kami seperti biasa mencari
tempat makan yang nyaman untuk nongkrong. Setelah banyak
berbincang-bincang di tempat makan, kami melanjutkan perjalanan ke bukit
hijau yang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat makan kami tadi.
Bukit yang sangat indah terpampang begitu jelas disini, bukit yang
sangat hijau itu membuatnya semakin terlihat sejuk dan asri. Suasana
disini bisa dibilang romantis, karena banyaknya pasangan yang bersantai
di tempat ini. Tapi aku malah merasakan hal yang aneh pada mereka
bertiga. Wina dan Andy yang setiap menatapku selalu tersenyum sambil
tertawa kecil, tetapi berbeda dengan Izal. Izal malah keliatan agak
sedikit gugup.
Sesampainya di bukit hijau, Wina dan Andy meninggalkan kami berdua.
Mungkin karena terbawa suasana, aku dan Izal merasa canggung. Izal
tiba-tiba menarik lenganku perlahan, aku mendadak terkejut dengan
tingkah laku Izal. Akhirnya Izal membuka pembicaraan, tapi Ia masih
terlihat gugup. “Az, aku eeem… Aku suka sama kamu, dari pertama kali
kita ketemu.” Jantungku berdegup kencang mendengar pengakuan Izal. Aku
terdiam menatap Izal yang sepertinya sulit menatapku.
“Az, kamu ngerasain hal yang sama enggak sama aku?” aku terdiam sejenak
sambil memandangnya. Lalu akhirnya aku mengangguk sambil tersenyum
bahagia. Pria itu pun membalas senyumanku.
“Az, kamu mau enggak jadi pacarku?” lanjut Izal. Jantungku tak berhenti
berdegup, malah sekarang jantung ini berdegup semakin kencang. Serasa
mau copot. Tentu saja aku mau. Aku sangat ingin menjalani hidupku
dengannya. Batinku terus berkata bahwa aku sangat mencintainya.
“Zal, kalau boleh tau. Kenapa kau menyukaiku?” aku mendadak malah
bertanya hal seperti itu. “Karena kamu cantik, Az. Dan kamu pun baik.”
Jawab Izal. Aku tersipu malu mendengarnya. Aku memantapkan hati untuk
menerimanya, tanpa memikirkan bahwa perkenalan kami baru berjalan
sebentar.
3 minggu sudah kami menjalani hubungan ini. Tapi semakin lama
kelakuan Izal sudah mulai berbeda. Entah apa sebabnya, aku tidak
mengerti. Kami bertemu selama pacaran baru satu kali. Bahkan, bila Wina
dan Andy bertemu. Izal tidak pernah ada bersama mereka lagi. Izal selalu
berkata, “Aku ada acara lain” atau “Maaf, aku sibuk. Mungkin bisa lain
kali” beberapa kali Izal selalu mengatakan hal itu setiap kali kami
bertiga mengajaknya jalan bersama.
Aku bingung harus bagaimana. Beberapa kali pula aku selalu bertanya
padanya di sebuah pesan ‘Zal, kamu kenapa? Ada yang berubah dari sifat
kamu.’ Pesanku singkat. Karena aku hanya ingin mendengar penjelasan yang
jelas darinya. Satu jam kemudian, belum juga ada balasan. Aku kesal.
Sangat kesal. Sesibuk apa sih dia? Sampai mengabaikan pacarnya sendiri!
Keluhku dalam hati. Dua jam kemudian, Izal membalasnya. ‘Az, maaf aku
sibuk.’ Aku terdiam melihat pesan yang begitu singkat darinya. Aku hanya
menghela napas panjang.
Keesokan harinya, aku menyuruh Izal datang ke rumahku. Hanya ingin
bertemu dengannya, walau sebentar. Ya, bisa dibilang aku sedang rindu.
Aku yakin Izal sudah biasa ke rumahku, karena dulu waktu dia masih
menjadi temanku. Izal sangat sering ke rumahku bersama Wina dan Andy.
Aku menunggunya, tapi tidak ada kabar darinya. Aku mencoba
menghubunginya, akhirnya Izal pun mengangkat telponnya.
“Zal, kamu dimana? Aku nungguin kamu dari tadi. Jadi kan ke rumahku?”
sejenak aku tidak mendengar suara Izal di telepon. “Az, maaf ya.
Kayanya aku enggak jadi deh ke rumah kamu. Aku lupa jalan kesana.”
“Hah? Kamu lupa jalan ke rumah aku? mana mungkin kamu enggak inget
sedikit pun jalannya?” tanyaku kesal. “Aku bener-bener lupa. Aku juga
enggak tahu kenapa.” Aku menghela napas panjang mendengar jawaban Izal
yang tidak masuk akal. Aku mencoba untuk menahan emosi.
“Zal, kamu benar-benar berubah.” Kataku dengan tenang mengatakannya.
“Kamu menganggapku berubah hanya karena masalah sekecil ini?” aku
terpaku mendengar kata-katanya. “Zal, kepekaan kamu itu dimana ya? sikap
kamu seperti tidak menganggapku sebagai seorang kekasih! Aku tetap
sabar dan selalu mencoba untuk mengalah…” aku menghentikan perkataanku
sejenak, untuk menahan air mata yang hampir saja keluar. Aku segera
melanjutkannya sebelum Izal mulai menyela.
“Zal, mau kamu apa sekarang? Aku sangat tulus mencintaimu. Tapi mungkin
kamu enggak pernah mencintaiku dengan tulus.” Percuma saja aku menahan
air mata ini, toh sekarang aku malah tidak dapat menahan derasnya air
mata yang keluar. “Az, aku ingin mengatakan sesuatu. Ini semua salahku,
Az.” Derasnya air mata ini membuat aku tak bisa berkata apa-apa.
“Maafkan aku” lanjut Izal.
“Aku kira aku mencintaimu. Ternyata setelah aku menyatakan cinta padamu.
Aku merasa ada hal yang aneh pada diriku. Sekarang aku mengerti, bahwa
aku lebih menganggapmu sebagai seorang teman. Tidak lebih dari itu.” Aku
terdiam seribu bahasa. Aku pun mulai berhenti menangis.
“Az, boleh aku menemuimu hari ini?”
“Dimana?” tanyaku. Tanpa ingin memperjelas apapun lagi.
“Di tempat biasa kita makan. Jam 2 siang ini ya.” jawabnya. Aku tidak
menjawab dan segera menutup sambungan. Aku menghela napas begitu berat.
Aku sampai lebih awal. Aku memakai kacamata untuk menutupi mataku
yang sembab sehabis menangis tadi. Aku memandang sekeliling untuk
mencari sosok pria itu. Dari kejauhan, Ia tampak sedang melepaskan helm
dan segera menuju kemari. Aku segera menunduk saat Ia sudah mulai dekat.
“Az, kamu nunggu lama ya?” aku hanya menggelengkan kepala. “Az,
bisakah kamu menatapku? Jangan menunduk seperti itu.” Aku menyanggupinya
untuk tidak menunduk lagi.
“Apa yang ingin kamu katakan?” Akhirnya aku membuka mulut untuk mendengar penjelasan darinya.
Paras wajah Izal mendadak pucat sembari berkata, “Az, aku salah. Aku
sungguh menyesal. Sedari dulu aku mencintai Wina, tetapi Andy sudah
lebih dulu memilikinya. Aku kira aku dapat melupakan Wina dengan adanya
kamu di hati aku. tapi ternyata aku enggak bisa, Az.” Mulutnya kelu
seperti tak mampu menjelaskan hal yang lebih menyakitkan lagi padaku.
Aku mengangkat kepala Izal yang dari tadi sudah tertunduk. Aku mencoba sekuat tenaga tersenyum padanya.
“Zal, mencintai seseorang itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Mencintai seseorang jika dipaksakan itu sulit bukan?” aku mencoba untuk
tetap tegar. Walaupun hati sudah menangis.
“Cintaku tulus, Zal. Bahkan jika kamu bertanya mengapa aku begitu
mencintaimu? Aku tidak tahu apa alasannya. Sampai saat ini pun aku tetap
tidak tahu mengapa mencintaimu. Karena jika mencintai seseorang karena
karakter, fisik maupun materi. Itu bukanlah cinta yang tulus.” Aku hanya
menatap pria di hadapanku saat ini yang sedang terpaku mendengar
perkataanku tadi.
Matanya berkaca-kaca menatapku. Walaupun aku sudah berterus terang
padanya, tetapi entah mengapa rasanya masih begitu berat melepasnya.
Izal tak berkata apapun lagi. Hanya terdiam.
Aku berdiri tanpa mengatakan ‘selamat tinggal’ padanya. Berusaha
pergi agar tidak menangis di hadapannya. Izal menatap punggungku yang
mulai menjauh lalu menghilang di balik pintu. Langkahku mendadak
terhenti. Kali ini aku tidak bisa lagi menahan tangis. Aku tahu, semakin
ditahan maka akan semakin sakit. Di tengah tangisku, aku hanya berkata,
“Sudahlah, tidak apa jika dia tidak bisa mencintaiku. Yang terpenting
hanyalah ‘Cintaku Tulus’.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar