Senin, 10 Maret 2014

My Oppa, My Namja



Mobil ayah Seung Ho sedang melaju di sekitar kawasan kumuh Gunyong pada jam 11 malam saat melihat seorang gadis dengan wajah yang berlumur darah berjalan dengan menyeret kakinya ke tengah jalan raya. Dia berhenti tepat di hadapan mobil ayah Seung Ho seolah menunggu untuk mengakhiri hidupnya.
Ciiiittttt… Suara decitan ban mobil terdengar. Ayah Seung Ho segera mengerem mobil saat melihat gadis itu. 30 cm lagi dan gadis itu akan terlempar jika mobil tidak berhenti. Seung Ho, mengusap-usap kepalanya yang baru saja beradu dengan kursi kemudi yang diduduki ayahnya akibat rem mendadak tersebut.
Gadis itu terkulai lemas dan pingsan begitu ayah dan ibu Seung Ho keluar dari mobil untuk melihat keadaannya.
1 minggu
“Eungh…” gadis itu bergumam. Ibu Seung Ho yang saat itu sedang menungguinya segera menghampiri gadis yang sedang terbaring itu. Gadis itu memejamkan matanya berusaha beradaptasi dengan cahaya lampu yang sangat menyilaukan.
“Dokter… Suster…” Ibu Seung Ho segera memanggil bantuan.
“Aku… Di mana…?” tanya gadis itu.
“Kau di rumah sakit.” jawab dokter yang sedang memeriksa keadaannya.
“Kenapa aku bisa berada di rumah sakit?”
“Kau tidak tahu?”
“Nae~”
“Siapa nama mu?” dokter itu bertanya.
“Nama ku… Nama… Ku… Aaaah…” gadis itu berusaha mengingat namanya tapi tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit.
“Gwaenchana (it’s okay), kau tidak perlu memikirkan hal itu dulu.”
Dokter itu lalu memberi tanda kepada ibu Seung Ho untuk keluar ruangan dan untuk membicarakan sesuatu.
“seperti yang telah saya perkirakan, yeoja itu lupa ingatan akibat pukulan atau benturan keras di kepalanya.” dokter itu langsung ke intinya begitu ibu Seung Ho masuk ke ruangannya.
“jadi, dok?”
“Kita tidak tahu siapa gadis itu, dan tidak ada juga yang mencarinya. Jadi… Ini akan menjadi keputusan anda, akan memberikan anak itu pada orangtua asuh, atau anda sendiri yang akan merawatnya. Rumah sakit tidak bisa menampungnya.” dokter itu, memberi penjelasan. Ibu Seung Ho hanya diam, terlihat sedang berfikir.
“Saya akan mendiskusikan ini dengan suami saya dulu dok.”
“Baiklah, saya berharap anda dan suami anda membuat keputusan yang terbaik untuk anak itu.”
“Nae~ gomawo (thanks)..” ucap Ibu Seung Ho sebelum meninggalkan ruangan.
“Aku adalah Eomma mu, ini adalah Appa mu, kau juga punya seorang Oppa yang tampan, namanya Park Seung Ho, dan nama mu adalah Park Hyun Ra.” Ibu Seung memperkenalkan dirinya dan suaminya pada gadis itu sambil tersenyum penuh kasih sayang. Mereka telah memutuskan untuk mengadopsi gadis itu yang sekarang telah memiliki nama ‘Park Hyun Ra’. Berhubung Ibu Seung Ho selalu mendambakan seorang anak perempuan.
“Eomma?” tanya Hyun Ra.
“nae, aku eomma mu.” begitu mendengar jawaban itu, Hyun Ra segera memeluk Ibu Seung Ho yang sekarang adalah Ibunya.
“Eomma… aku takut. hiks..” Hyun Ra memeluk ibunya sambil terisak. Dia juga tidak tahu pasti, tapi saat itu dia merasa sangat bahagia bercampur takut.
“Gwaenchana, Eomma bersama mu chagi-ya (sayang)!” Ibunya mengusap kepala Hyun Ra lembut dalam pelukannya. Ayah Hyun Ra hanya menjadi penonton yang baik.
1 minggu
“Eomma, aku tidak sabar ingin bertemu oppa ku!” ucap Hyun Ra bersemangat. Hari ini dia akan pulang ke rumah. Meskipun merasa aneh karena oppa-nya tidak pernah sekalipun datang menjenguknya. Ibu bilang oppa-nya benar-benar sibuk.
Tiba di rumah
Hyun Ra segera berlari masuk ke dalam rumah di ikuti Ibu dan Ayah yang hanya bisa tersenyum melihat betapa senangnya Hyun Ra saat itu.
“Oppa… Oppa… Eodiseo (dimana)?” Hyun Ra berteriak memanggil Seung Ho, Oppa-nya.
“Hyaaaaa~ kenapa kau sangat berisik, eoh?” Seung Ho menuruni tangga dengan wajah kesal.
“Oppa ~” Hyun Ra berucap lirih. Matanya mulai berkaca, sedih rasanya. Oppa-nya seperti membencinya.
“Seung Ho-ah!” tegur Ibu. Seung Ho memasang wajah kesal lalu berjalan melewati Hyun Ra menuju dapur. Ayah-nya mengikuti di belakang, sementara ibu membawa Hyun Ra ke kamarnya yang berada tepat di samping kamar Seung Ho.
Di dapur
“Seung Ho, ayah tau kalau kau tidak setuju dengan keputusan Appa dan Eomma. Tapi, setidaknya bersikap baiklah padanya. Sekarang dia adalah adik mu. Park Hyun Ra. Lagi pula tidak mungkin Appa dan Eomma meninggalkannya di rumah sakit.” Ayah menasihati Seung Ho.
seung Ho tidak berkata apa-apa.
“Apa kau mendengar ku?”
“nae~ aku mengerti.” jawab Seung Ho sebelum kembali ke kamarnya dengan wajah yang di tekuk.
Pagi
“Oppa… Oppa… Ireona (bangun)…” Hyun Ra menggoyangkan bahu Seung Ho yang masih tertidur pulas. Hyun Ra melakukannya berkali-kali sampai Seung Ho terbangun.
“Hya, apa yang kau lakukan di kamar ku?” bentak Seung Ho begitu melihat Hyun Ra.
“Eomma, menyuruh ku membangunkan mu.” jawab Hyun Ra takut-takut.
“Aku sudah bangun, sekarang keluar.” Seung Ho berkata dengan kasar lalu beranjak menuju toilet.
“Oppa, sebenarnya apa yang telah ku lakukan? Beri tahu aku.” Hyun Ra berucap sedih lalu berbalik meninggalkan kamar Seung Ho. Meskipun suara Hyun Ra terbilang kecil, Seung Ho masih dapat mendengarnya.
“Kesalahan mu adalah menjadi adik ku.” Seung Ho menjawab sambil menatap pantulan dirinya di cermin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar